Connect with us

Entertainment

Ini yang buat penyanyi dangdut Lesti istimewa

Avatar

Published

on

Jakarta, koin24.co.id – Lesti jadi satu-satunya penyanyi dangdut yang masuk Project 2000-an Joox, kolaborasi Joox dan Trinity Optima Production. Dalam program ini, beberapa penyanyi akan menyanyikan lagu-lagu favoritnya di era 2000-an.

Kali ini Lesti kembali membuat para pendengarnya mengharu biru, setelah sebelumnya merilis single bertemakan keikhlasan ditinggal kekasih.

Dalam Project 2000-an Joox Lesti memilih lagu yang pernah dipopulerkan oleh ST12 berjudul ‘Saat Terakhir’. “Aku tuh sama semua lagu-lagunya ST12 suka, dulu juga punya albumnya dan selalu didengerin, jadi hampir semua lagunya tahu dan seneng banget saat bisa ikut serta dalam Project 2000-an Joox ini,” ungkap Lesti dalam keterangan tertulis yang diterima koin24.co.id, Kamis (1/10/2020).

Lagu ‘Saat Terakhir’ ditulis Charly van Houten sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam karena ditinggalkan oleh sahabat, sekaligus orang yang ia sayangi. Begitu pula Lesti yang langsung teringat momen ketika ia ditinggalkan oleh sosok yang selama ini ia sayangi. “Ketika kita ditinggalkan orang yang kita sayang yang pasti sedih banget. Kehilangan terbesar aku tuh saat ditinggalkan Uyut (kakek). Waktu Uyut sakit, Uyut mau ketemu tapi akunya nggak bisa, sampai Uyut koma, Uyut bilang mau ketemu aku dan kebetulan pas bisa pulang, excited banget saat itu, tapi diperjalanan pulang, Uyut udah nggak ada,” jelas Pemenang Juara 1 Dangdut Academy ini sambil meneteskan air mata.

Pengalaman ditinggalkan membuat Lesti sungguh menghayati ketika proses rekaman lagu ‘Saat Terakhir’. “Lirik dan makna lagu ini kan sangat menyentuh banget, membuat aku ikut ngerasain lagi sedihnya ditinggalkan seperti yang pernah aku alamin. Jadi pas recording lagu ini…. aku nangis, trus sempet disuruh istirahat dulu, dikeluarin aj nangisnya. Kalau udah tenang, udah lepas, nyanyi lagi,” tutur Lesti.

Selain penghayatan yang dalam melalui ciri khas suara Lesti, lagu ini juga semakin membuat pendengarnya trenyuh dengan balutan beberapa instrumen dangdut yang natural. “Di lagu ini kita kasih sentuhan dangdut di gendang dan suling. Untuk suling take-nya live virtual, kebetulan lagi di Kalimantan pemain sulingnya dan kita kan maunya suling asli, jadi rekamannya kemarin beda kota. Instrumen yang lain semua di Jakarta. Hanya sulingnya yang di luar kota, tapi semuanya nggak ada kendala. Semuanya lancar,” jelas Simhala Avadana, selaku tim A&R Trinity Optima Production.

Lesti berharap dengan ia menyanyikannya sepenuh hati dengan tim musik yang sangat total dalam mengerjakan lagu ini, pesan mendalam lagu ‘Saat Terakhir’ dengan aransemen baru pun dapat tersampaikan.

Lagu ‘Saat Terakhir’ secara eksklusif hanya dirilis di Joox dalam Project 2000-an pada 24 September 2020. Menyusul para pendengarnya juga akan dimanjakan secara visual melalui video lirik yang dirilis pada 28 September 2020 di Youtube Channel 3D Entertainment, sebagai sub-label Trinity Optima Production. (***)

Entertainment

Keluarga Besar Kodaeral IV Menggelar Nonton Bareng Film “THE HOSTAGE’S HERO”

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Batam, Koin24.co.id – Kodaeral IV menggelar kegiatan nonton bareng film “The Hostage’s Hero” bersama keluarga besar Kodaeral IV, pada Kamis (2/4/2026) di XXI Mega Mall Batam.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Kodaeral IV Laksda TNI Berkat Widjanarko, S.E., M.Tr.Opsla., serta dihadiri Ketua Daerah Kodaeral IV Gabungan Jalasenastri Koarmada RI,Ny.Peni Berkat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Komandan Kodaeral IV, Inspektur Kodaeral IV, seluruh Pejabat Utama (PJU), Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Kodaeral IV, serta keluarga besar prajurit dan PNS Kodaeral IV yang antusias mengikuti rangkaian acara.

Kegiatan nobar ini menjadi salah satu sarana untuk mempererat tali silaturahmi, refreshing dan kebersamaan antara pimpinan, prajurit, serta keluarga besar Kodaeral IV di tengah dinamika pelaksanaan tugas sehari-hari.

Film “The Hostage’s Hero” yang mengisahkan tentang operasi keamanan laut di Selat Malaka yang dilaksanakan KRI Karel Satsuitubun-356 pada 2004 silam. Sebanyak 36 awak kapal MT Pematang berhasil diselamatkan tanpa satu pun korban.

Suasana penuh keakraban dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut, di mana seluruh peserta dapat menikmati momen kebersamaan dalam nuansa santai namun tetap sarat makna. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kehangatan, mencerminkan kekompakan serta semangat kebersamaan keluarga besar Kodaeral IV.

Continue Reading

Entertainment

Beatrice Gobang dan Tembang Puitis Indonesia di Jantung New York

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Kolaborasi resital Beatrice Jean Consolata Gobang (mezzo-soprano) dan Ayunia Indri Saputro (piano) di Piano-Piano Theater New York, Jumat 13 Maret 2026.

New York, Koin24.co.id – Kolaborasi musikal itu membuka malam yang teduh dengan ekspresi keintiman zaman Barok melalui komposisi “Vittoria, mio core!” karya Giacomo Carissimi. Suasana hangat memenuhi ruangan Piano-Piano Theater di kawasan Manhattan, New York, pada Jumat (13/3/2026) pekan lalu.

Bertajuk “Poetry,Roots, Resonance”, kolaborasi ini menghadirkan mezzo-soprano muda Indonesia, Beatrice Jean Consolata Gobang, yang disapa Beatrice Gobang, dalam debut solo resitalnya di jantung New York City dengan iringan pianis Ayunia Indri Saputro.

Kolaborasi resital Beatrice Jean Consolata Gobang (mezzo-soprano) dan Ayunia Indri Saputro (piano) di Piano-Piano Theater New York, Jumat 13 Maret 2026.

Kolaborasi resital Beatrice Jean Consolata Gobang (mezzo-soprano) dan Ayunia Indri Saputro (piano) di Piano-Piano Theater New York, Jumat 13 Maret 2026.

Sesuai tema dan arahan artistik Aning Katamsi, pentas ini menyajikan perjalanan musikal yang menghubungkan puisi, sejarah, dan ingatan budaya lintas abad. Repertoar art song merentang dari zaman Barok hingga kontemporer. Termasuk menghadirkan beberapa tembang puitis Indonesia.

Komposisi “Vittoria, mio core!” yang mengawali pentas berasal dari puisi karya Domenico Benigni yang digubah oleh Carissimi (1605-1674), salah satu maestro musik Barok.

Vokal Beatrice terus berdialog selaras dengan permainan piano Ayunia, ketika menampilkan dua karya Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), yakni “An Chloë” dan “Voi che sapete”. Yang kedua ini merupakan aria dari opera “Le Nozze di Figaro” berlatar Spanyol pada akhir abad ke-18.

Memasuki dunia Lied (lagu seni) Jerman, sejumlah komposisi menjadikan puisi sebagai inti ekspresi musikal oleh para komposer dunia (dari 1700-an hingga awal 1900). Komposisi yang dibawakan yakni “Lachen und Weinen” karya Franz Schubert, “Schwanenlied” karya Fanny Mendelssohn-Hensel, “Herbstlied” karya Felix Mendelssohn, dan “Der Gärtner” karya Hugo Wolf.

Setelah menelusuri tradisi Eropa, secara perlahan arah musikal bergeser menuju Indonesia, menghadirkan tembang puitis “Setitik Embun” karya Mochtar Embut (1934-1973) dan “Cempaka Kuning” karya Sjafii Embut (1935-1987). Kedua karya ini menyajikan keindahan puisi dan ekspresi musikal Indonesia kepada pendengar internasional.

Selepas jeda, resital membuka lanskap musikal yang lebih luas. Beatrice melantunkan “Tiga Sajak Pendek” karya Ananda Sukarlan (1968) dari puisi Sapardi Djoko Damono. Berdampingan dengan mélodie Prancis “Les chemins de l’amour” karya Francis Poulenc (1899-1963).

Di piano, Ayunia kemudian memainkan “Pagodes from Estampes” karya Claude Debussy (1862-1918). Komposisi ini lahir dari kekaguman Debussy terhadap bunyi gamelan Jawa yang ia dengar di Paris pada akhir abad ke-19.

Program kemudian kembali pada akar tradisi Nusantara melalui lagu rakyat “Mana Lolo Banda” dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Lalu diakhiri dengan sentuhan sederhana “Simple Gifts” karya komposer Amerika Aaron Copland (1900-1990).

Resital malam itu ditutup dengan dua lagu pada sesi encore, yakni “Le Violette” karya Alessandro Scarlatti (1660-1725) dan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki (1914-1958). “Terima kasih ‘Indonesia Pusaka’. Ini adalah ungkapan cinta akan tanah air,” ujar sejumlah penonton diaspora Indonesia di New York.

Rangkaian repertoar ini menghadirkan perjalanan emosional dari berbagai akar tradisi hingga resonansi musikal yang hangat dan reflektif.

Perjalanan Musikal

Bagi Beatrice, malam tersebut menandai langkah penting dalam perjalanan belajar dan artistiknya. Remaja kelahiran Jakarta ini tampil pertama kali di panggung internasional Weill Recital Hall, Carnegie Hall New York, pada Desember 2022, setelah meraih penghargaan dalam American Protégé International Competition dan Golden Classical Music Awards.

Pada Maret 2026, ia kembali tampil di Carnegie Hall sebagai First Prize Winner kategori vokal klasik dalam konser para pemenang Golden Classical Music Awards.

Perjalanan musik pelajar Kolese Gonzaga Jakarta ini dimulai sejak masa kecil melalui biola dan piano dengan metode Suzuki. Ia kemudian menekuni studi vokal di The Resonanz Music Studio Jakarta bersama mezzo-soprano Valentina Nova. Sejak 2021, ia melanjutkan pembinaan vokal bersama soprano dan pedagog Aning Katamsi, serta aktif sebagai anggota The Resonanz Children’s Choir sejak 2018. Ia juga mengikuti sejumlah masterclass vokal internasional.

Sementara Ayunia adalah pianis dan pendidik musik kelahiran Surabaya yang telah tampil di berbagai festival internasional, termasuk Chan Centre for the Performing Arts. Ia juga memenangkan beberapa kompetisi, di antaranya Ananda Sukarlan Award International Piano Competition, Silverman Piano Concerto Competition, dan Indonesia International Piano Competition.

Selain mengajar dan mempresentasikan karya, saat ini Ayunia sedang menempuh studi doktoral bidang pedagogi dan pertunjukan piano di Universitas Michigan, Amerika Serikat.

Resital ini diselenggarakan sebagai bagian dari kerja-kolaboratif HeartSongGift, sebuah gerakan budaya yang diinisiasi oleh Avanti Fontana dalam upaya bersama menumbuhkan warisan budaya melalui musik sekaligus mendukung perkembangan talenta muda.

Kali ini HeartSongGift menjalin kemitraan dengan Pondok Baca Kampung Kabor di Maumere, Flores, untuk berbagi pengalaman dan berkokreasi dalam kegiatan literasi serta pendidikan musik bagi anak-anak.

Kolaborasi musikal dalam Poetry, Roots, Resonance ini menghadirkan lebih dari sekadar konser. Ia menjadi pengingat bahwa musik—yang lahir dari puisi dan ingatan budaya—dapat menjadi bahasa bersama yang membawa kenangan, rasa syukur, dan harapan akan keterhubungan antarmanusia dan generasi. (*/HSG)

Continue Reading

Entertainment

Pusat Budaya Banten Berikan Award Perdana Kepada Pemerhati Musisi

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Serang, Koin24.co.id – Dikemas dalam ajang tembang kenangan bertajuk “Moesik Jadoelan”, Pusat Budaya Banten(PBB)yang didirikan Aston Serang Hotel & Convention Center, pada Jumat (30/1/2026l) malam, memberikan penghargaan kepada Tokoh Pembina & Pemerhati Musisi Kota Serang Ateng Ginarto. Pria yang akrab disapa Ko Anggin itu dinilai memiliki komitmen tinggi dalam mengapresiasi penyanyi & musisi Kota Serang yang bermain di kafe-kafe. Award perdana PBB tersebut diserahkan oleh Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia.

Menurut Agis, pendirian PBB dengan aktivitas seni budaya di dalamnya sangat sejalan dengan program Pemkot Serang yang tengah menata lokasi-lokasi tertentu untuk menjadi daya tarik wisata di Kota Serang.

“Dengan adanya penghargaan bagi para seniman dan budayawan ini, tentu akan menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagi para pelaku seni budaya Kota Serang maupun Banten,” ujar Agis.

PBB Award memang ditargetkan Aston Serang bisa diberikan secara berkala kepada praktisi, pelestari, maupun pemerhati seni budaya Banten dari berbagai genre. Adapun Moesik Jadoelan digelar sebagai wahana penyerahan award secara meriah.

“Ini karena musik adalah seni yang lebih mudah diterima masyarakat luas. Apalagi musik tembang kenangan. Penggemarnya akan selalu ada,” papar Regional GM Archipelago Internasional Banten Area Doddy Fahturahman yang membawahi Aston Serang, Aston Anyer dan Aston Cilegon.

Perhelatan Moesik Jadoelan dengan PPB Award di dalamnya tentu disambut baik kalangan pelaku seni budaya di Banten. Ajang ini diyakini bisa menjadi motivasi tidak saja bagi para musisi, tetapi juga untuk seniman dan budayawan Banten lainnya dalam berkarya.

“Saya sangat mengapresiasi langkah Aston Serang dan Pusat Budaya ini. Semoga acara Moesik Jadoelan bisa diterima masyarakat luas, baik pelaku maupun penikmat musik,” harap Anggin.

Moesik Jadoelan volume perdana yang menampilkan home band Zanzibar feat Gaduh Gifta berlangsung meriah. Puluhan penggemar musik jadul lintas kalangan antusias bersama.

Mendampingi Wakil Wali Kota, juga hadir Ketua PHRI Banten Ashok Kumar dan Ketua SMSI Pusat Firdaus. Suasana jeming makin meriah dengan kehadiran anggota komunitas Young Flowers yang sangat atraktif.(*)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terpopuler