Connect with us

Opini Redaksi Tamu

Laksanakan Aturan PPKM Secara Tegas

Avatar

Published

on

Oleh: Steven Setiabudi Musa

Jakarta, koin24.co.id – Kegaduhan akibat meningkatnya yang terpapar virus Covid-19 di DKI Jakarta sekarang ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika penguasa wilayah menerapkan aturan yang ada dengan tegas, tanpa kompromi. 

Sudah dapat diperkirakan sebelumnya akibat libur lebaran maka yang terpapar Covid-19 akan meningkat di Jakarta, karena banyak anggota masyarakat yang mudik ke kampung halamannya meskipun sudah di larang. Ditambah lagi masih banyak anggota masyarakat yang tidak patuh dengan Protokol Kesehatan (3M) yang telah dicanangkan.

Masih banyak kita temukan masyarkat yang tidak menggunakan masker jika ke luar rumah, masih terjadi kerumuman di mal, cafe atau tempat belanja atau pasar tradisional. Begitu juga dengan acara pesta, atau makan bersama. Bagaimana dengan mencuci tangan pakai sabun, yang ini paling sulit dikontrol, karena sangat tergantung pada kesadaran masing-masing.

Mengapa demikian? Padahal aturan sudah dikeluarkan melalui PSBB yang terus di perpanjang beberapa kali dan sekarang dengan PPKM. Apalagi aturan 3 M yaitu Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan, selalu tidak diterapkan dengan patuh.

Aturan memang sudah dikeluarkan demikian juga sanksi bagi yang tidak menuruti aturan tersebut. Tapi bagaimana penerapan sanksi tersebut. Itu yang perlu dipertanyakan.

Penerapan sanksi masih sangat lemah. Aparat yang berada di lapangan tentu saja tidak menerapkan sanksi dengan tegas karena mereka juga tidak di bayangi sanksi jika tidak menerapkan sanksi sesuai dengan aturan yang sudah dikeluarkan.

Aparat bersikap longgar menerapkan aturan jika mereka juga tidak dikenakan sanksi jika tidak mengenakan sanksi bagi para pelanggar aturan. Jadi semua harus bertindak tegas, tidak ada toleransi dalam menerapkan aturan yang telah ditetapkan.

Sebagai contoh, pemeritah telah mengeluarkan larangan mudik dan memperpendek liburan Lebaran tahun 2021. Masyarakat menggunakan akalnya dengan mudik sebelum tanggal larangan berlaku. Malah banyak yang lolos mudik pada tanggal larangan diberlakukan. Mengapa bisa? Karena tidak adanya penerapan sanksi yang tegas terhadap mereka yang melanggar aturan larangan mudik tersebut.

Yang diumumkan adalah berapa banyak kendaraan yang diputarbalik tidak boleh mudik, tapi berapa banyak yang lolos tidak ada data yang jelas. Padahal yang lolos jumlahnya berkali-kali lipat  lebih banyak daripada yang disuruh putar balik.

Begitu pula dengan yang lolos melalui jalur penerbangan, dengan syarat memiliki hasil negatif tes antigen atau tes swap tentu dicurigai apakah telah diterapkan dengan tegas. Apalagi beberapa waktu yang lalu ditemukan pemalsuan surat hasil tes antigen. Pelakunya sudah ditindak tegas, tapi apakah tidak ada lagi petugas yang demikian?

Belum lagi di daerah, pejabat berkuasa bisa saja memerintahkan pelaksana tes antigen dan swap mengeluarkan hasil tes negatif tanpa melakukan tes agar mengingat biasa tes antigen dan swap cukup mahal. Itu bisa saja terjadi di daerah tertentu tanpa memikirkan dampaknya jika yang menggunakan surat keterangan tes yang aspal (asli atau palsu) tersebut.

Kita bisa saja marah kepada otorisat Bandara Hongkong yang melarang Garuda Indonesia membawa penumpang ke Hongkong karena menemukan bebarapa penumpang hasil tesnya positif, padahal mereka telah mengantongi keterangan negatif dari Indonesia. Kita tidak boleh diam, tapi harus mencari tahu dari mana mereka mendapat surat keterangan tes negatif tersebut, dan itu sebenarnya tidak sulit.

Sekarang Pemprov DKI Jakarta telah mengeluarkan Kepgub Nomor 796 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro yang berlaku di Jakarta hingga 5 Juli 2021.

Sebelas poin kegiatan diatur dalam Kepgub tersebut. Berlaku diseluruh DKI Jakarta, tidak tergantung zonasi berdasarkan kasus Corona di wilayahnya. Yang diatur salah satu adalah Work From Home (WFH) di seluruh Jakarta sebesar 75 persen, hanya 25 persen karyawan yang bekerja ke kantor. Dan ini berlaku di tempat kerjas swasta, BUMN atau BUMD dan instansi pemerintah.

Banyak lagi aturan lain, seperti  kegiatan di puat perbelanjaan, mal, pusat perdagangan, jam operasional restoran, termasuk juga diatur pelaksanaan ibadah. Apakah PPKM ini akan dipatuhi. Semua tergantung kepada disiplin para pelaksana di lapangan. Jika sanksi tegas iterapkan bagi yang melakukan pelanggaran, yakinlah PPKM ini akan berhasil mencegah meningkatnya penyebaran virus Corona.

Begitu juga dengan tes terhadap penumpang pesawat kereta api dan kapal laut, harus dilakukan secara ketat, jangan sampai ada pemalsuan hasil tes atau intervensi pejabat agar surat hasil tes negatif keluar, padahal tidak dilakukan tes.

Tidak boleh ada kelonggaran dalam menerapkan sanksi PPKM ini, karena mengharapkan kesadaran masyarakat  melaksanakan aturan PPKM dan Prokes (3 M) sulit diharapkan. Begitu juga petugas lapangan harus ditindak tegas jika lalai menerapkan aturan yang telah ditetapkan.

Disiplin tinggilah yang dapat mecegah terjadi lonjakan penyebaran virus Corona, meski sekarang telah muncul berbagai varian yang penularannya sangat cepat dan tidak memandang usia.

Selain itu tentunya target jumlah anggota masyarakat yang mendapat vaksin Corona harus dikebut agar terjadi herd imunnity (kekebalan kelompok). Karena hingga saat ini jumlah yang sudah menerima vaksin Covid kedua di Indonesia baru mencapai 12 juta lebih. Menurut para ahli herd immunity akan dicapai jika yang sudah mendapat vaksinasi 70 persen atau lebih dari jumlah penduduk. (***)

*Steven Setiabudi Musa
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan.

Opini Redaksi Tamu

“Pena di Atas Langit”: interesting, inspiring, and motivating (Resensi buku)

Published

on

Wartawan senior penulis resensi buku "Pena di Atas Langit", Aat Surya Safaat (Foto: Istimewa)

Oleh Aat Surya Safaat*

Jakarta, koin24.co.id – Membaca buku Pena di Atas Langit karya Tofan Mahdi, saya teringat pengalaman pribadi, menulis berita di pesawat dalam perjalanan pulang pada malam hari dari Ottawa Kanada menuju New York Amerika di tahun 1995.

Pada masa-masa itu saya tengah mendapatkan amanah sebagai Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York. Saya bertugas di kota metropolitan yang dijuluki The Big Apple itu selama lima tahun, yakni sejak 1993 hingga 1998.

Memang tidak ada larangan menyalakan laptop saat pesawat sudah mengudara secara stabil di atas ketinggian tertentu, asalkan tidak menggunakan internet. Kebetulan ketika itu belum ada alat komunikasi handphone (HP). Pelarangan menyalakan laptop dan perangkat elektronik lainnya di kabin pesawat hanya berlaku saat take off atau landing.

Ketika itu, setelah para penumpang menyantap hidangan makan malam dan lampu di kabin dimatikan, saya mengambil dan menyalakan laptop, lalu menulis berita yang tersisa dari liputan siang dan sore harinya di Ottawa.

Beritanya menarik, yaitu kehadiran Jose Manuel Ramos Horta pada seminar internasional tentang Timor Timur (sekarang Timor Leste). Ramos Horta adalah juru bicara bagi perlawanan Timor Timur di pengasingan.

Saya menulis berita dalam senyap, dengan menyalakan lampu di atas tempat duduk saya saat sebagian besar penumpang tengah tertidur atau mengantuk karena lampu pesawat di-off-kan dalam penerbangan langsung Ottawa-New York dengan durasi sekitar satu setengah jam itu.

Persis saat pesawat bersiap untuk landing, penulisan berita sudah rampung. Lalu, setelah turun dari pesawat di Bandara Internasional John F Kennedy New York, saya bergegas mencari taksi dan terus meluncur ke apartemen saya di kawasan Queens New York. Setibanya di apartemen, berita langsung saya kirim ke Jakarta.

Esok harinya berita tentang Ramos Horta yang menyudutkan Pemerintah itu dikutip banyak media di Jakarta, baik media cetak maupun media elektronik. Dalam berita tersebut saya juga mengangkat pernyataan diplomat muda Dino Patti Djalal yang menyanggah apa yang disampaikan Ramos Horta pada seminar di Ottawa itu, sehingga beritanya berimbang.

Belakangan, Ramos Horta kemudian menjadi Presiden Timor Leste kedua sejak negara itu terpisah dari Indonesia melalui referendum pada 1999. Ia menjabat sebagai Presiden untuk masa jabatan 2007-2012.

Kemudian, sejak 2017 Ramos Horta menjadi Menteri Negara dan Penasehat untuk Keamanan Nasional Kabinet Pemerintah Konstitusional Ketujuh. Sebelumnya ia berkedudukan sebagai Perdana Menteri (2006 – 2007) dan Menteri Luar Negeri Timor Leste sejak 2002 hingga mengundurkan diri pada 2006.

Dengan menceritakan pengalaman sebagaimana saya sebutkan di atas, point saya adalah bahwa menulis berita, artikel, atau bahkan catatan ringan di dalam pesawat yang sedang mengangkasa itu sangat mengasyikkan.

Kenapa? Tidak lain karena kita bisa menulis dalam senyap serta dengan keterbatasan waktu, sehingga bisa dan memang harus bisa berkonsentrasi penuh, terlebih ada perasaan bersyukur yang luar biasa karena tidak banyak orang yang mempunyai kesempatan amat berharga seperti itu.

Saya yakin apa yang saya rasakan itu sama dengan yang dirasakan sahabat saya Tofan Mahdi yang menuliskan sebagian besar catatan ringannya di dalam pesawat sebagaimana bisa dibaca dalam bukunya yang berjudul Pena di Atas Langit itu.

Tofan menuliskan catatan ringannya dengan bahasa jurnalistik yang apik, menarik, dan kadang menggelitik. Sesuatu yang berat atau sulit bisa dibuatnya menjadi ringan dan gampang dicerna.

Sebagian besar catatan itu ditulisnya saat berada dalam perjalanan udara di atas ketinggian 30 ribu kaki. Menurut Tofan, sambil menikmati awan seringkali muncul inspirasi untuk dituliskan. Sebagian dari tulisan dalam buku itu sudah dibagikannya pada platform Facebook dan beberapa catatan pernah dimuat di beberapa media cetak dan media online.

Tulisan dalam buku tersebut juga boleh disebut gado-gado, tidak tematik, dan tidak berurutan, tapi tetap enak dibaca, sehingga pembaca tidak terpaku harus membaca dari bab pertama sampai terakhir secara berurutan. Bebas saja membacanya, bisa dari depan dulu, dari tengah, atau langsung dari belakang.

Terkait tulis-menulis itu sendiri, misalnya dalam menulis artikel, buku, bahkan tulisan ilmiah populer, ada satu pakem bahwa tulisan dimaksud harus dimulai dengan sesuatu yang attractive (menarik) dan diakhiri dengan sesuatu yang impressive (berkesan). Tofan nampaknya paham betul pakem tersebut.

Ia memulai tulisannya dengan cerita menarik tentang Malaysia dengn judul KL Tower dan Kelebihan Malaysia. Malaysia, menurut dia tak seindah dan seluas Indonesia, tetapi wisatawan asing lebih banyak datang ke negara tersebut.

Tidak lain karena negeri jiran itu lebih pandai memasarkan. Selain itu infrastruktur di dalam negerinya relatif bagus, kenyamanan di bandaranya sangat diperhatikan, dan transportasi publiknya handal, aman, dan nyaman.

Lebih dari itu, menurut Tofan, keramah-tamahan bagi warga Malaysia menjadi perhatian utama, sebab bisnis pariwisata sejatinya adalah bisnis hospitality (keramah-tamahan). Tulisan di bagian awal tentang Malaysia itu menjadi makin menarik karena diselingi dengan percakapan ringan dengan sopir taksi di Kuala Lumpur.

Sementara itu pada bagian akhir tulisannya, pria yang beristrikan Hj Rufi Yenuartik dan memiliki tiga anak, yakni Arzaky Rizky Muhammad, Rafeyfa Asyla Putri, dan Zuricha Aisha Putri (almarhumah) itu bercerita tentang kedekatan dia dengan ibundanya, Hj Siti Chabsah.

Dalam istilah Tofan, ibundanya adalah orang biasa banget yang lahir di Dusun Penulupan Desa Parasredjo Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Hj Siti Chabsah hanya bersekolah sampai kelas 2 SD.Tentu saja, membaca Al-Quran-nya lebih fasih daripada membaca tulisan Bahasa Indonesia.

Tofan yang lahir di Pasuruan Jawa Timur pada 21 Oktober 1974 itu menjadi anak yatim sejak usia lima tahun, sehingga praktis ibunya harus pontang-panting membiayai sekolah Tofan dan adik kandungnya yang seibu, Nurul Wardani yang kini menjalani karir sebagai ASN (aparatur sipil negara) di Pemerintah Kota Pasuruan.

Hj Siti Chabsah sampai “nebeng” di rumah beberapa saudaranya di Pasuruan secara berpindah-pindah sambil membantu urusan rumah mereka, atau bahasa kasarnya menjadi pembantu rumah tangga di rumah saudara guna mendapatkan upah untuk membiayai sekolah kedua anaknya.

Meski di tengah kesulitan hidup dan penderitaan, Hj Siti Chabsah tetap berusaha memperhatikan pendidikan Tofan dan adiknya, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama serta mengasuh kedua anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

Jika mengenang ibundanya yang wafat pada 7 Maret 2018 itu, satu hal yang sangat membekas dan berkesan di benak Tofan, yaitu kesabaran dan keikhlasan serta kegigihan ibunya yang luar biasa dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, catatan-catatan ringan pada buku yang berjudul Pena di Atas Langit itu punya daya tarik tersendiri, terutama karena pemilihan angle yang pas dan bahasanya yang mengalir, sehingga tak heran diapresiasi oleh Dahlan Iskan yang diakui Tofan sebagai teladan serta guru jurnalistiknya itu.

Tidak lama setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Jember pada 1997, Tofan memang bekerja di Jawa Pos, harian nasional yang terbit di Jawa Timur dibawah pimpinan Tokoh Pers Dahlan Iskan.

Apresiasi yang sama juga diberikan oleh pakar media Dr Agus Sudibyo (anggota Dewan Pers periode 2019-2022) dan veteran jurnalis yang juga penulis handal, Mas Djoko Pitono Hadiputro serta beberapa sahabat dan relasi bisnisnya, termasuk tentu saja pimpinannya di PT Astra Agro Lestari Tbk.

Saat ini Tofan menduduki jabatan sebagai Vice President of Communications PT Astra Agro Lestari (perusahaan kelapa sawit Grup Astra) dan Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia).

Adapun catatan yang perlu diberikan terhadap buku Pena di Atas Langit ini nampaknya hanya satu, yakni terkait judul buku. Judul yang mungkin lebih tepat untuk buku tersebut adalah Pena di Atas Awan karena Tofan menulis sebagian besar catatan ringannya saat ia berada di dalam pesawat yang mengudara di atas awan, dan bukan di atas langit.

Masukan ini barangkali bisa dipertimbangkan untuk penerbitan mendatang. Buku setebal 196 halaman itu sudah dicetak dua kali oleh Penerbit Tankali. Cetakan pertama pada 1 Juni 2019 (hampir 1000 eksemplar) dan cetakan kedua pada 2 Juli 2019 (dengan jumlah sebanyak 2500 eksemplar).

Sebagian dari buku cetakan kedua sudah beredar di Gramedia dan sebagian lainnya dijual secara online. Namun masih saja ada sahabat-sahabat Tofan yang komplain karena belum kebagian buku tersebut.

Last but not least, kalau boleh disimpulkan, kumpulan catatan ringan yang ditulis oleh praktisi komunikasi asal Kota Pasuruan Jawa Timur itu, bagi saya dan bagi para pembaca pada umumnya, jelas merupakan bacaan yang interesting, inspiring, and motivating. Selamat dan sukses buat Mas Tofan Mahdi

*Penulis Aat Surya Safaat adalah wartawan senior dan konsultan komunikasi. Pernah menjadi Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York periode 1993-1998 dan Pemimpin Redaksi (Direktur Pemberitaan) ANTARA pada 2016.

Continue Reading

Opini Redaksi Tamu

Pancasila Lahir Dari Rahim Ibu Pertiwi, Dibutuhkan Role Model Membumikan Pancasila Sejak Dini

Published

on

Oleh: Ical Syamsudin, S.Sos.

Jakarta, koin24.co.id – PANCASILA harus dibumikan dalam ruang kegiatan baik dalam sikap dan perilaku bangsa saat ini maupun di masa depan agar bisa menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia sehingga dapat bersaing dengan dunia global dan memiliki pijakan yang kuat, tangguh dan Abadi.

Pendidikan Pancasila harus tetap ada wujud pembelajarannya pada sektor dan di setiap aspek pendidikan di tanah air kita sehingga harus terintegrasi nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Dengan menjaga semboyanan Bhineka Tunggal Ika, melawan radikalisme, dan cinta tanah air merupakan wujud pelestarian terhadap ideologi Pancasila, bahwa pendidikan Pancasila harus diterapkan sejak dini.

Pentingnya merawat kemajemukan itu sejak dini. Bagaimana anak bangsa ini memiliki persaudaraan karena ini menjadi persaingan tingkat global. bahwa sejak lahir sudah dalam pluralisme sehingga kemajemukan ini sudah menjadi rahim dari ibu pertiwi. Maka kemauan untuk mengaktualisasi Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI bisa ditanamkan kepada anak bangsa agar memiliki kecintaaan dan menjadi spiritualism yang tertanam di jiwa mereka.

Jika Pancasila menjadi praksis dalam kehidupan sehari hari maka akan menjadi manusia yang merdeka dan berdaulat.

Tantangan saat ini bagaimana pendidikan yang mampu memilih yang baik serta memerdekaaan dalam memilih dan menentukan pilihan serta membangun karakter bahwa Pancasila ternyata dapat membangun karakter yang baik yang menghargai perbedaan dan menjaga persatuan dan kesatuan.

Role model tersebut tentunya dibutuhkan peran serta dan dukungan moril dimulai dari perilaku para elit politik untuk membumikan Pancasila dalam setiap kebijakan publik. Salah satunya pendidikan multikultural yang ditanamkan sejak dini hingga perguruan tinggi. saat ini dibutuhkan role model bagi bangsa dalan membumikan nilai-nilai Pancasila. role model yang seperti apa?. Tentunya bagaimana memperilakukan segenap anak bangsa dalam upaya membumikan Pancasila. Ini yang sulit sekarang sebab itu ancaman dalam era digital adalah rendahnya literasi dan mudah terhasut narasi-narasi informasi hoaks.

Kendati tingkat kemampuan membangun narasi dan dangkalnya dalam memahami dikarenakan hilangnya budaya kritis. Ini menyebabkan masalah SARA muncul dan tak terhindarkan penyebab kala terjadi.

Demikian, perlu digarisbawahi bahwa Pancasila bukan agama, tidak bertentangan dengan agama, dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Pancasila lahir menjadi simbol negara sebagai perwujudan dari keberagaman yang ada.

“Selamat Hari Lahir Pancasila.” (***)

Penulis:
Ical Syamsudin, S.Sos.
Ketua DPW PBB DKI Jakarta

Continue Reading

Opini Redaksi Tamu

Obituari: Selamat Jalan Setiadi Tryman, Tokoh Pers Film Indonesia, dan Anggota PWI

Published

on

Catatan: Ilham Bintang

Jakarta, koin24.co.id – ‘Telah berpulang ke rumah BAPA di Surga dalam damai. Suami, Papa dan Opa kami tercinta Bapak SETIADI TRYMAN dalam usia 84 tahun pada hari Sabtu, 15 Mei 2021 pukul 19.00 WIB.”

Berita duka itu dikirim Rita, Carmel, Lola, Carla beserta Cucu & Cici atas nama keluarga besar mendiang.

Info itu segera menyebar di berbagai group WA. Saya membacanya di grup WA Pengurus PWI Pusat, Minggu (16/5) siang.

Almarhum memang wartawan. Wartawan sangat senior, pernah bergabung ke Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tokoh pers film Indonesia.

Saya mengenal (tepatnya berguru) pada Setiadi saat ia menjadi redaktur Harian Sinar Harapan, surat kabar terpandang dan terbesar di Indonesia.

Setelah media itu dibreidel pemerintah dan kemudian terbit lagi dengan nama baru, Harian Suara Pembaruan, Mas Setiadi Tryman diangkat menjadi Pemimpin Redaksi pertamanya.

Saya merasa sangat kehilangan atas kepergian Setiadi Tryman. Sedih kehilangan seorang sahabat dan mentor sekaligus. Saya yakin perasaan kehilangan itu juga dirasakan kalangan pers dan perfilman Indonesia pada umumnya.

Kami bersahabat lama. Sikapnya yang egaliter sangat mengesankan dalam posisinya sebagai pemimpin redaksi media besar.

Orangnya sangat rendah hati, dan memilih banyak tersenyum dengan humor-humor berkelas dan selalu menggelitik.

Di dunia film Setiadi sudah mencapai tingkat ketokohan yang dihormati masyarakat film. Sudah berkali kali menjadi juri FFI pada saat saya baru mulai menjadi wartawan. Namun sejak perkenalan pertama dengannya, praktis sejak itu kami menjalin persahabatan.

Mas Setiadi lah yang menjadi penopang utama di masa saya menjabat Ketua Humas FFI (Festival Film Indonesia) dan FSI (Festival Sinetron), tiga priode —15 tahun— di masa Harmoko menjadi Menteri Penerangan.

Setiadi Tryman seangkatan dan teman gaul di masa muda dengan Harmoko yang kelak menjadi Menteri Penerangan tiga periode di masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Sebelum itu Setiadi sudah mengikuti dinamika kehidupan seniman dan budayawan dengan berkecimpung dalam komunitas Seniman Senen yang terkenal di Jakarta. Di situ bergaul dengan aktor terkenal Soekarno M Noer dan Haji Misbach Jusa Biran, antara lain.

Saat menjadi Pemred Harian Suara Pembaruan, saya sering diundang untuk menulis ulasan film dan bahkan menulis artikel itu langsung di atas meja dalam ruangan kantornya.

Kawan senior lain yang juga teman kolaborasi kami di masa itu adalah Paul Lumban Tobing, redaktur film Sinar Harapan. Paul juga termasuk tokoh wartawan film yang terpandang di masanya.

Markas kami masa kolaborasi itu di kantor Dewan Film Nasional, Menteng Raya. Di sini berkantor juga sahabat lama Setiadi. Namanya Zulharmans Said dan Chaidir Rahman yang merupakan kawan perjuangan sejak tahun 1950 an. Keduanya sudah almarhum. Zulharmans Said adalah Ketua Umum PWI Pusat yang sekaligus menjabat Direktur Utama PT Perfin ( perusahaan pengedar film Indonesia). Wartawan senior Chaidir Rahman juga berkiprah di PT Perfin.

Pernah dalam kurun yang panjang, setiap sore, sepulang kantor, kami berkumpul di Dewan Film Nasional sampai tengah malam. Lokasi Dewan Film, sangat strategis, di tengah kota, Jalan Menteng Raya.

Suatu kali saya ingat, suatu sore datang seorang teman wartawan film namanya Gagar Mayang. Dia datang untuk curhat.

Ceritanya, puterinya mendadak dibatalkan oleh gurunya untuk ikut Paskibraka. Pokok soalnya, menurut cerita Gagar Mayang, sejak gagal itu, anaknya menjadi pemurung, tidak punya nafsu makan.

Dia khawatir pada perkembangan putrinya, Gagar minta teman -teman mendukungnya menuntut guru sekolah anaknya. Saya setuju. Teman-teman mendukung.

Terakhir ia minta pandangan ke Setiadi Tryman. Namun, Setiadi tidak setuju. Dia mengajukan pandangan lain. “Coba cek dulu ibunya anak kamu Gagar. Anaknya dikasih makan apa, lauknya apa? Data ini penting diketahui,“ tanya Setiadi.

Gagar langsung menukas: apa hubungannya Mas? “Ya, banyak. Seumpama anak itu dikasih makan dengan lauk ikan asin, masuk akal kalau dia tidak nafsu makan. Dan, itu berarti tak ada hubungsn dengan larangan gurunya. Jangan anakmu, gurunya pun saya khawatir tidak nafsu makan juga kalau lauknya ikan asin,” papar Setiadi serius.

Semua terdiam menyimak pandangan itu. Yang gusar hanya Gagar Mayang seorang. Rencana gugatan kepada guru itu memang tidak berlanjut.

Setiadi sepengetahuan saya memang tabu untuk menggunakan cara konfrontasi dalam menyelesaikan masalah. Dia meyakini dialog atau saling mendengar adalah kuncinya.

Teman yang curhat diminta cari tahu secara jelas duduk perkara suatu masalah dengan pendekatan humoristis supaya soal berat pun jadi ringan. Contoh tadi itu.

Betapapun tak puas, toh kekesalan Gagar bisa diredam dengan humor. Bicara soal diplomasi humor Setiadi memang ahlinya.

Surat-Surat Nyasar

Karya Setiadi Tryman dalam karir sebagai wartawan maupun orang film banyak yang bisa dikenang. Ia menulis banyak sekenario film dan rubrik “Surat-Surat Nyasar” di Sinar Harapan melagenda. Di rubrik yang digawanginya itu semua masalah yang dibahas, serumit apapun, dipecahkan dengan selera humor tinggi.

Tak heran jika Surat-Surat Nyasar memiliki pembaca fanatik dalam jumlah besar. Di tangan Setiadi humor menjadi serius. Atau hal serius bisa encer dibuatnya dalam kemasan humor.

Gayanya kritis tapi tidak menyakiti, nyeleneh, tapi mengundang senyum.

Atas permintaannya setelah pensiun, Surat-Surat Nyasar itu dilanjutkan pemuatannya di Tabloid Cek& Ricek. Sempat terbit beberapa tahun sampai Setiadi sendiri menghentikan karena tidak punya waktu banyak lagi untuk mengisinya secara rutin.

Surat-Surat Nyasar di Sinar Harapan maupun di Tabloid C&R menggunakan logo karikatur wajah Setiadi Tryman.

Beberapa kali Setiadi sempat menyambangi saya di kantor C&R. Ngobrol – ngobrol sambil bersenda gurau.

Belakangan lama kami tidak berkomunikasi lagi. Berita duka kepergiannya yang beredar di WAG membuat saya sedih, saya membuka kembali kenangan-kenangan manis selama persahabatan kami tempo hari.

Setiadi Tryman lahir di Demak, Jawa Tengah. Setamat SMA, ia melanjutkan kursus manajemen, seni drama HBS di Solo (1955), ATNI di Solo (1957) dan Workshop film Directing (KFT). Sebelum terjun ke dunia film ia menjadi wartawan. Dari Berita Indonesia (1960), Sinar Harapan (1962-1986), kemudian memimpin surat kabar Suara Pembaruan. Anggota Dewan Film Nasional ini juga anggota PWI yang terjun pertama kali di dunia film sejak tahun 1964 sebagai penulis skenario.

Kini Setiadi Tryman, sahabat yang sekaligus mentor itu telah pergi mendahului kita. Selamat jalan sahabat senior dan mentor kami. Semoga Tuhan memberimu tempat lapang, nyaman, dan indah di sisiNya.

Penulis:
Ilham Bintang
Wartawan Senior

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terpopuler