Connect with us

Kopini Tamu

Refleksi Akhir Tahun 2025 Forum Senja- Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Yanto Soegiarto

Musik dan Film Indonesia di Tahun 2025 (Bagian ke-4)

Oleh: Yanto Soegiarto
⁃ Mantan Pemimpin Redaksi Indonesian Observer, Head of Content astaga.com, mantan Pemimpin Redaksi RCTI, Managing Editor Majalah Globe Asia dan kolumnis Jakarta Globe

Jakarta, Koin24.co.id – 2025 merupakan tahun yang cukup istimewa bagi Indonesia di bidang musik. Panggung musik tidak bisa lepas dari peran media sosial, televisi, dan podcast.

Bahkan media sosial dan televisi menjadi panggung utama semua genre musik termasuk rock, pop, jazz, dan dangdut.

Begitu juga dengan sinema, Netflix yang membesarkan film bertemakan cinta, kesedihan, horor dengan berbagai sentuhan ataupun sequence yang menyayat hati, kesedihan, ketakutan, tetapi terbukti menjadi pilihan utama hiburan bagi masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya akan talenta musik sehingga dalam ajang “Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards” terdapat sampai 63 kategori penghargaan bagi industri musik. Mengingat banyak nya penghargaan yang diberikan sebagai apresiasi kepada industri musik, tentunya tidak semua karya musik bisa dicantumkan dalam tulisan ini,
Catatan yang bisa menjadi highlight, penghargaan AMI Awards ini yang ber-tagline “Bhinneka Tunggal Suara”, merajut sukses menjadi lambang persatuan dalam keragaman musik Indonesia.

Dari berbagai latar belakang, alunan semua genre musik Indonesia berpadu membentuk identitas musikal bangsa.

Namun tidak hanya di pagelaran prestisius ini para musisi berkiprah. Sebut saja grup musik Barasuara yang baru saja manggung dalam konser “Symphonesia Viral: 100% Musik Indonesia” pimpinan conductor kondang Erwin Gutawa di Taman Ismail Marzuki. Barasuara mengusung genre musik yang sering disebut alternative rock, dikenal dengan lirik bahasa Indonesia puitis dan penampilan energik, menciptakan suara yang khas dan berakar pada budaya lokal.

Barasuara fokus pada ekspresi “menjadi orang Indonesia” lewat musik yang bersentuhan dengan masalah social and humanity. Karya musik grup ini “Terbuang Dalam Waktu” bahkan menjadi soundtrack dalam film “Sore:Istri dan Masa Depan” yang akan tayang Januari 2026.

Nama-nama artis lama masih berjaya di tahun 2025 ini. Raisa misalnya mendapat penghargaan sebagai best female solo artist dengan lagunya “Terserah”, sementara bintang-bintang Indonesian Idol Ronny Parulian dan Salma Salsabil meraih penghargaan dengan lagunya masing masing “Pesona Sederhana” dan “Berharap Pada Timur”.

Tahun 2025 ini musisi jazz ternama Indra Lesmana masih langgeng namun demikian ada juga jazz band pendatang baru seperti Societeit de Harmonie yang kerap membawakan lagu nostalgia a la jazz seperti “Aku Tak Ingin Sendiri.”

Jika di masa yang lalu pagelaran Java Jazz diadakan di Kemayoran, perhelatan jazz terbesar ini akan digelar di venue baru di PIK 2 pada tahun 2026.

Musik tradisonal seperti dangdut dan kroncong pun tidak lepas dari perhatian masyarakat. Lesti Kejora misalnya dengan “Dilema”, Nabila Turin dengan “Keroncong Rangkaian Mutiara” masih berkumandang di masyarakat. Tidak ketinggalan juga karya berlirik spiritual Islami karya Yura Yunita berjudul “Tanda” mendapat tempat di hati penggemarnya.

Jika di tahun-tahun sebelumnya lagu hits viral seperti “Cikini ke Gondangdia” dibawakan di puncak peringatan KTT ASEAN oleh Aurellie Moormans, atau lagu Rungkadnya Happy Asmara yang sangat popular di semua kalangan sampai sekarang, tahun 2025 dibuat gempar oleh lagu super viral “Tabola Bale” oleh pencipta lagu pop terbaik AMI Awards Siprianus Bhuka.

Lagu ini sedemikian viral nya sehingga bisa dikatakan membangkitkan semangat persatuan dan mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.
Mengapa viral? Karena perpaduan musik khas Nusa Tenggara Timur ini dengan bahasa daerah yang liriknya mudah diingat tentang cinta yang menggelisahkan tetapi musiknya sangat menggairahkan untuk ikut menyanyi dan berdansa.

Oleh karena lirik dan irama nya yg sangat spektakuler Tabola Bale dijadikan lagu berjoget di puncak peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 80 di Istana Merdeka yang dimeriahkan oleh berbagai kalangan anak muda, lansia, pejabat, dan presiden.

Tidak hanya itu, Tabola Bale kini menjadi ilustrasi musik berbagai jenis iklan dari penjual busana hingga makanan. You Tube mencatat lagu ini memecahkan rekor dengan 300 juta viewers. Lagu yang fenomenal ini jelas menggambarkan bahwa musik lokal bisa diapresiasi dan dinikmati oleh siapa saja di mana pun.

*Peran AI Dalam Musik*

Dengan adanya artificial intelligence (AI), kini sudah banyak artis-artis virtual tampil gencar di medsos dan sulit dibedakan dari penyanyi-penyanyi asli. Ini dimungkinkan karena sudah ada aplikasi “Suno” dan teknologi AI lainnya yang bisa mentransfer video to video maupun image to video bisa menggabungkan motion atau still images satu sama lain dengan pixel tinggi sehingga membuat virtual pun menjadi lifelike atau manusia sungguhan.

Jika Anda melihat penyanyi cantik di Instagram atau TikTok yang menyanyikan lagu-lagu terkenal, sulit membedakan penyanyi sungguhan atau tidak karena raut wajah dan warna kulit bisa menyerupai, bahkan lebih tajam melebihi yang asli.

Kepada Forum Senja pengamat musik Deny Secaatmadja memberi tanggapannya. “Di tahun 2025 ini, industri musik kita, dan dunia, semakin dalam memasuki dunia digital. Platform streaming, media sosial, dan teknologi AI telah jadi bagian penting dalam produksi, distribusi, hingga monetisasi sebuah karya musik”.

Dampaknya, kata dia, sebagian musisi dan promotor konser dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Adaptasi menjadi kunci, baik dalam cara berkarya, memasarkan musik, maupun menjangkau penonton.

Namun demikian, Deny yang bekerja sebagai konsultan konser dan program TV perusahaan kreatif Kolam Ikan mengatakan dia percaya, pada 2026 nanti, meski dunia digital akan terus berkembang, sebagian penikmat musik akan mulai kembali mencari karya yang memiliki rasa, jiwa, dan kejujuran manusia, bukan sekadar suara yang dihasilkan mesin.

“Mereka akan memilih tontonan yang memunculkan kenangan. Maka untuk musisi dan promotor, harus menyikapi AI sebagai partner bukan ancaman. Harus semakin jeli membaca peluang menggabungkan teknologi dengan sentuhan emosional agar tetap relevan dan tidak tertinggal oleh perubahan zaman,” ujarnya.

Intinya, di era AI dan digital ini, sebagian penonton tidak hanya datang ke sebuah acara musik, untuk mendengar suara yang “sempurna”, tapi untuk merasakan kehadiran manusia di balik musik.

Karya dan konser yang meninggalkan kenangan indah adalah yang membuat penonton pulang dengan perasaan: “Saya merasa terhubung, saya merasa ditemani.”

“Itulah nilai yang tidak bisa digantikan mesin,” tutup Deny.

*Film Indonesia Berkiprah Internasional*

Perkembangan film-making di Indonesia juga mencatat prestasi yang bagus. Walaupun sutradara dan produser ternama seperti Joko Anwar, Manoj Punjabi dan Mira Lesmana masih berjaya membuat film-film berkualitas, di dunia perfilman muncul sineas-sineas baru yang melakukan transformasi besar lewat keberanian para produser yang tidak hanya memproduksi tontonan, tetapi juga mengusung misi perubahan.

Angga Dwimas Sasongko misalnya, berhasil mendorong perfilman nasional ke level yang lebih inklusif, lintas usia, lintas budaya, dan kompetitif secara global dengan filmnya “Jumbo” yang berhasil mencetak rekor jumlah penonton 10 juta lebih.

Berbeda dengan film konvensional, Jumbo berupa film animasi keluarga yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan dibintangi oleh antara lain Bunga Citra Lestari dan Ariel Noah.
Film ini bercerita tentang Don, seorang anak laki-laki yang berusaha mementaskan sebuah pertunjukan teater dalam sebuah ajang bakat lokal setelah merasa diremehkan oleh teman-temannya.

Jumbo hingga Juni 2025 menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, menggusur film KKN di Desa Penari.

Sementara itu Ernest Prakasa dan Dipa Andika membuat film komedi “Agak Laen 2”. Tayang di akhir tahun ini muncul sebagai film yang bukan hanya membuat tawa, tapi juga ceritanya emosional.

Memang film komedi jadi pilihan masyarakat selama ini yang kerap dibintangi maupun di sutradarai oleh para komedian. Oleh karena hebat nya hype Agak Laen, jumlah penonton sudah melampau 7 juta orang. Film ini sudah menjadi talk of the town di akhir tahun karena mampu menjadi pilihan tepat sebagai hiburan berkualitas.

Hadirnya sineas-sineas muda di industry film telah memberi angin segar bagi perkembangan perfilman di Indonesia dari segi kreatifitas, ide dan kekinian. Diantara nya Edwin Nazir, produser film Abadi Nan Jaya dan actor kondang Reza Rahadian yg membuat film Pangku.

Film Abadi Nan Jaya atau The Elixir judul di Netflix, adalah film horor zombie Indonesia yang mengisahkan keluarga disfungsional pemilik usaha jamu “Wani Waras” di Yogyakarta, di mana ambisi kepala keluarga menciptakan ramuan awet muda justru menyebabkan wabah zombie yang menyebar ke seluruh desa, memaksa keluarga Sadimin tersebut untuk bersatu dan bertahan hidup sambil mengungkap rahasia kelam di balik ramuan tersebut.

Wabah zombie ini unik karenay terinspirasi dari tanaman kantong semar. Dan film ini menyoroti konflik keluarga serta isu budaya tentang kerakusan akan keabadian.

Sadimin menciptakan jamu “Abadi Nan Jaya” untuk awet muda, namun malah mengubahnya menjadi zombie yang ganas, memulai wabah yang menghancurkan desanya.

Film ini menggali konflik keluarga, kerakusan manusia akan keabadian, dan bagaimana modernitas tanpa kesadaran budaya bisa membawa kehancuran.

Ditanya tentang latar belakang pemeberian nama Abadi Nan Jaya, kepada Forum Senja, Edwin Nazir mengatakan: “Abadi Nan Jaya puitis, dan satu sisi menggambarkan ambisi karakter Pak Sadimin yang ingin abadi dengan berupaya jadi muda kembali.”

Secara visual teknik pengambilan gambar film ini bagus. Apa ada unsur AI dalam pembuatan film itu? Edwin mengatakan: “Kami banyak menggunakan visual effect tapi bukan AI.”

Edwin berangkat dari penyiar berita stasiun TV RCTI di tahun 2000-an. Namanya lama tak terdengar hingga mencuat dengan memproduksi film ini yang menurut banyak penonton judul film ini menggelitik disamping berkesan sebagai film zombie layar lebar pertama Indonesia.

Sedangkan Reza Rahadian yang terkenal membintangi film “Habibie” bersama Bunga Citra Lestari, dari best actor kini sudah menjadi sutradara film Pangku yang merupakan Film Terbaik FFI 2025, serta sukses di Festival Film Internasional Busan 2025.

Film Pangku menceritakan perjuangan Sartika, seorang ibu tunggal hamil yang terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi “pangku” di jalur Pantura untuk bertahan hidup. Ia tidak punya banyak pilihan selain bekerja di warung kopi di mana pelanggan memangku pelayannya. Film ini menyoroti tema-tema perjuangan, cinta, harapan, dan pilihan hidup yang sulit dalam realitas keras.

Sartika meninggalkan kota asalnya demi kehidupan yang lebih baik bagi bayinya, namun perjalanannya membawanya ke Pantura di mana ia menjadi pelayan di warung kopi pangku.

Ia dibantu oleh Bu Maya yang dibintangi Christine Hakim, pemilik kedai kopi, dan bertemu Hadi (Ferdi Nuril), seorang sopir truk yang menjadi harapan dalam hidupnya.
Film ini mengeksplorasi isu sosial dan konflik personal, perjuangan perempuan, dan kerasnya kehidupan di pinggiran Pantura.

Kepada Forum Senja, kritkus film Ekky Imanjaya, Ph.D. dari departemen film Binus University mengatakan film “Pangku” adalah “kuda hitam” dan kejutan manis sinema Indonesia.

“Film ini sebenarnya mengandung materi yang mengarah pada “poverty porn”: single mom, miskin, menyelami dunia malam pantura dan pelacuran “kelas teri”.

Tapi Reza Rahadian memilih untuk tidak mengeksploitasi itu, dan menjadikannya sumber air mata (tearjerker). Tidak terlihat film ini merendahkan perempuan ataupun kemiskinan dan berbagai efek sampingnya.”
Ekky yang dihubungi dalam perjalanannya ke Festival Film Horor di Pacitan menambahkan: “Sebaliknya, Reza menyalurkan rasa simpati dan keberpihakannya kepada fenomena ‘Kopi Pangku’ yang ia temui saat melalui daerah itu. Reza mengundang penonton lewat mata kamera, hadir dan menyaksikan sendiri pergumulan seorang dari ribuan rakyat jelata untuk sekadar hidup merdeka, punya hak untuk berharap. Film ini memanusiakan mereka yang terpinggirkan.” (*)

Continue Reading
Advertisement

Kopini Tamu

Pameran Otomotif, Bertambahnya Merek Mobil dan Sinyal Ekonomi “Rojali”

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Oleh:Herry Sinamarata,Forum Wartawan Kebangsaan

Jakarta, Koin24.co.id – “Kebanyakan merek mobil justru bikin bingung (konsumen—Red),”ujar seorang pengunjung pameran otomotif “Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Kamis (5/2/2026) lalu, membuka IIMS 2026. Agenda pameran tahunan, kali ini diikuti 35 merek mobil, 26 merek motor dan ratusan merek industri pendukung. IIMS kali ini akan berlangsung 10 hari, hingga 15 Februari 2026 mendatang.

Bertambahnya merek mobil, tak hanya bikin bingung konsumen (pecinta otomotif) memilih kendaraan idamannya, tapi juga membuat pusing para eksekutif di perusahaan bisnis otomotif.

“Sekarang jualan mobil susah, tak semudah dulu. Ketika pasar masih dikuasai brand-brand dari Jepang, cuan-nya masih besar. Sekarang kompetitornya banyak. Ada Korea. Ada China yang sangat ekspansif,”ujar seorang praktisi di industri otomotif nasional, belum lama ini.

Eksekutif di sejumlah perusahaan otomotif dikabarkan siap-siap angkat kaki, mengundurkan diri karena tak sanggup memenuhi target penjualan. Turunnya daya beli masyarakat dan sikap “wait and see”, selektif masyarakat menengah ke atas , dalam membelanjakan uangnya, turut menekan penjualan otomotif.

Ketatnya persaingan, melambatnya perekonomian nasional terkonfirmasi dari data penjualan mobil secara nasional yang dikeluarkan Gaikindo, belum lama ini.

Data dari Gaikindo menyebut, total penjualan mobil di Indonesia pada 2025 mencapai 803.687 unit secara wholesales (pabrik ke dealer) dan 833.692 unit secara ritel.

Angka ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan tahun 2024. Untuk penjualan ritel (dealer ke konsumen) tahun 2025, tercatat turun 6,3% dibandingkan dengan tahun 2024. Ini bukan angka yang kecil.

Tak heran, perusahaan otomotif nasional melakukan langkah konsolidasi dan efisiensi besar-besaran. Beberapa perusahaan yang memegang “brand” besar, tidak saja mengalami penurunan volume penjualan, tapi juga turun pangsa pasarnya dan keuntungan.

Menghadapi pukulan beruntun itu, tantangan berat, stok mobil yang menumpuk, baru-baru ini, ada salah satu prinsipal dari Jepang yang memanggil eksekutif-nya, kembali ke negaranya karena dinilai “gagal”. Ini sempat bikin heboh sekaligus menunjukkan konsolidasi bisnis serius.

Benar, dalam tahun 2025 lalu, penjualan mobil nasional masih dikuasai brand-brand dari Jepang (secara wholesale), seperti Toyota 250.431 unit; Daihatsu 130.677 unit dan Mitsubishi 71.781 unit. Tapi, perlu dicatat, tren penjualan mobil listrik mengalami peningkatan. Ini juga karena adanya insentif dari pemerintah.

Tahun 2026, produsen mobil listrik asal China akan melanjutkan ekspansinya ke pasar global, termasuk pasar di Asia Tenggara dan Indonesia. Alarm berbunyi makin kencang. Ini peringatan bagi pemain-pemain lama.

Sejumlah produsen mobil listrik buatan China— yang menguasai pasar mobil listrik global—tampil percaya diri, dengan booth ukuran besar dan produk-produk baru dengan narasi futuristik, teknologi canggih di IIMS 2026. Mobil-mobil listrik ini dijual dengan rentang harga sekitar Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar per unit. Apakah mobil-mobil listrik, dengan brand China ini, bisa mengubah peta pasar mobil nasional?

Sinyal Ekonomi Rojali

Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2025 secara tahunan mencapai 5,11%. Pertumbuhan ini lumayan. Pemerintah kemudian “mengarahkan” dunia usaha, perbankan, pasar modal ke angka pertumbuhan 6 persen pada 2026.

Salah satu tantangannya adalah daya beli masyarakat. Oleh karena itu, perbankan sudah wanti-wanti, minta masyarakat kelas menengah ke atas, untuk membelanjakan uangnya. Jangan cuma menyimpan uang “di bawah bantal”. Belanjakan untuk membeli barang-barang non-esensial, seperti mobil.

Sejumlah bank papan atas sudah menyiapkan strategi mendorong daya beli masyarakat, dengan target penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit pemilikan rumah (KPR) lebih banyak.

Fenomena “window shopping” dan sinyal ekonomi rombongan jarang beli (Rojali) banyak disebut sejumlah ekonom untuk menggambarkan perilaku konsumen dan kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja pada tahun 2025.

Seorang bankir mengatakan, jika masyarakat kelas menengah ke atas tidak membelanjakan uangnya. Atau setidaknya masih terlalu selektif dalam mengeluarkan uangnya, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tidak akan bergerak dari kisaran 5 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Kamis (5/2) di Jakarta, menyatakan optimistis di tengah tantangan daya beli, pembiayaan dan dinamika rantai pasok global, akan terjadi pemulihan pasar domestik.

Tahun 2026, penjualan mobil nasional diproyeksikan akan berada di kisaran 850.000 unit atau naik sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi 2025. “Dan, IIMS 2026 diharapkan menjadi katalis penting mempercepat pemulihan….,”ujar Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita.

IIMS 2016 akan ditutup 15 Februari 2026, beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan. Ini momen penting. Kenapa? (1) Meski bukan satu-satunya alasan, tapi cukup banyak konsumen yang biasanya membeli mobil dengan alasan untuk mudik lebaran. (2) Faktor emosional, mudik bersama keluarga dengan mobil sendiri, selain nyaman juga dapat mengangkat gengsi.

Tak heran cukup banyak booth, yang menawarkan mobil-mobil, mulai dari yang “compact”, berukuran kecil. Atau mobil keluarga ukuran sedang, seperti mobil MPV (multi purpose vehicle) hingga mobil MPV besar dan mewah yang harganya di atas satu miliar rupiah/unit.

Di IIMS 2026, cukup banyak merek yang menawarkan produk baru, dengan teknologi terkini, fitur lebih lengkap, guna memberikan pengalaman berkendara “tak terlupakan”. Hampir semua booth menawarkan dengan iming-iming diskon harga besar. Ini tidak hanya dilakukan oleh merek-merek mobil listrik asal China, seperti BYD, Wuling dan Chery, tapi juga pemain-pemain lama, seperti Toyota dan Mitsubishi yang sudah sekitar 50 tahun berada di Indonesia.

Jangan lupa, tahun 2026 pasar mobil di Indonesia juga diramaikan mobil asal Eropa, dengan harga kompetitif. Produsen mobil Perancis, lewat APM-nya di sini, membawa Citroen C3 dengan harga di kisaran Rp 200 juta/unit. Ini dimungkinkan setelah pemerintah Indonesia-Uni Eropa meneken kesepakatan IEU-CEPA di Bali, tahun lalu.

Kalau sebelumnya, mobil-mobil asal Amerika yang diimpor CBU dikenai bea masuk sebesar 50 persen, maka dengan adanya kesepakatan dagang RI-AS tahun 2025, nantinya mobil-mobil merek Ford, Jeep Wrangler, Rubicon kemungkinan akan bebas bea masuk sehingga harganya terdiskon hingga 50 persen.

Potensi pasar otomotif di Indonesia tak perlu diragukan— Akan terus berkembang. Tapi, kalau terlalu banyak merek yang bertarung di pasar, ya repot juga. Kondisi ini jelas tidak ekonomis untuk pengembangan industri otomotif nasional, apalagi Presiden Prabowo juga menginginkan adanya mobil nasional buatan Indonesia.

Di sini sekali peran strategis pemerintah sebagai regulator sangat penting, menentukan arah ke depan. Isunya tetap harus ada aturan main yang jelas, transparan dan konsisten dalam penegakan hukum.(*)

Continue Reading

Kopini Tamu

Wartawan vs Konten Kreator, Siapa Penjaga Kebenaran di Era AI?

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Oleh : Dadang Rahmat, SH.
Sekjen AMKI Pusat, Pimpinan Redaksi Mitrapol

Jakarta, Koin24.co.id – Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026,kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari: dunia informasi telah mengalami perubahan yang drastis. Dulu, masyarakat menunggu informasi dari koran, radio, atau televisi. Saat ini, berita datang melalui layar ponsel, sering kali bukan dari jurnalis, tetapi dari kreator konten.

Kemunculan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, dan budaya “viral” memicu perubahan ini. Informasi kini bergerak dengan sangat cepat, sementara proses verifikasi membutuhkan waktu. Di sinilah terjadi persaingan terselubung: antara kecepatan dan kebenaran.

Wartawan Tradisional Mulai Tersisih, Namun Ini Bukan Kekalahan.
Tidak bisa disangkal bahwa wartawan tradisional semakin sering merasa “ketinggalan”. Banyak kejadian besar pertama kali muncul melalui unggahan masyarakat, YouTuber, TikToker, atau akun Instagram lokal. Wartawan muncul belakangan untuk melakukan konfirmasi.

Permasalahannya, publik kadang tidak peduli mengenai siapa yang memverifikasi. Yang mereka peduli adalah mereka sudah mengetahui informasi tersebut terlebih dahulu. Di zaman ini, wartawan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.

Namun, tersisih bukan berarti kalah. Wartawan masih memiliki satu aspek yang tidak dimiliki oleh semua orang, yaitu tanggung jawab profesional. Ada kode etik, ada mekanisme untuk memperbaiki kesalahan, ada redaksi, ada standar verifikasi, dan ada konsekuensi hukum serta moral.

Kreator konten sering tidak memiliki hal tersebut. Mereka memiliki kreativitas, keberanian, dan kedekatan dengan audiens, tetapi tidak selalu dilengkapi dengan batasan etika yang kuat.

*Permasalahan Utama: Publik Sulit Membedakan Berita dan Konten*

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah hilangnya batas antara berita, opini, dan hiburan. Konten dibuat seolah-olah adalah fakta, opini disajikan seperti berita, dan rumor disunting seakan-akan merupakan hasil investigasi.

Yang lebih berbahaya lagi, AI mempermudah manipulasi. Teknologi seperti “deepfake,kloning suara”, foto yang dimanipulasi, dan narasi otomatis dapat mengubah hoaks menjadi “tampak kredibel”.

Ketika masyarakat kebingungan, tingkat kepercayaan pun runtuh. Dan ketika kepercayaan hancur, yang diuntungkan bukanlah wartawan atau kreator, melainkan mereka yang berusaha menyebarkan kebohongan.

*Media Konvergensi: Solusi Memperbaiki Kepercayaan*

Di sinilah pentingnya media konvergensi. Wartawan tidak cukup hanya menulis berita untuk platform tertentu. Mereka harus hadir di seluruh saluran, teks, video pendek, podcast, laporan langsung, infografik, hingga ruang interaksi publik.

Konvergensi bukan sekadar mengikuti tren. Konvergensi adalah cara bagi media untuk mempertahankan pengaruhnya dalam membangun opini publik yang sehat.

Wartawan harus mampu:
– mengolah fakta menjadi cerita yang mudah dipahami,
– cepat tapi tetap terverifikasi,
– melawan disinformasi dengan data, bukan emosi,
– membangun kepercayaan melalui transparansi dalam kerja jurnalistik.

Jika wartawan hanya bergantung pada format lama, publik akan menjauh. Bukan karena wartawan tidak penting, tetapi karena wartawan tidak berada di tempat di mana publik berkumpul.

*Kreator Konten Bukan Musuh,Mereka Adalah Realitas Baru*

Kita juga perlu menyadari, kreator konten bukanlah musuh wartawan. Mereka bagian dari ekosistem informasi yang baru. Banyak kreator konten yang membantu menyuarakan permasalahan publik, mengangkat isu lokal, dan mempercepat penyebaran informasi yang penting.

Namun, tanpa bimbingan yang tepat, kreator konten dapat berubah menjadi “pabrik opini” yang tidak terkontrol.

Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dan pembinaan, bukan konflik.

*Membimbing Kreator Konten: Dari Viral Menuju Bertanggung Jawab*

Pembinaan untuk kreator konten tidak berarti membatasi kebebasan berekspresi. Pembinaan adalah memberikan standar minimal agar konten yang dihasilkan tidak merusak publik.

Ada beberapa hal yang perlu ditanamkan:

Pertama, perbedakan antara fakta dan opini. Kreator konten boleh memiliki pendapat, tetapi tidak boleh memanipulasi fakta untuk mendukung pendapat mereka.

Kedua, biasakan melakukan verifikasi sederhana.
Minimal, periksa sumber, periksa waktu, periksa tempat, periksa konteks.

Ketiga, pahami prinsip “hak untuk menjawab.”
Jika ada tuduhan terhadap seseorang, berikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi. Ini bukan sekadar masalah etika, melainkan tentang keadilan.

Keempat, hindari monetisasi kebencian.
Memang algoritma menyukai pertikaian, tetapi masyarakat tidak seharusnya menjadi korban.

Kelima, pahami dampaknya.
Konten keliru dapat merusak nama baik individu, memicu perselisihan, bahkan berujung pada masalah hukum.

Jika para kreator dibekali dengan prinsip ini, mereka tidak hanya menjadi “pembuat konten”, tetapi juga bisa berkontribusi sebagai mitra dalam penyampaian informasi publik.

Nurani Jurnalisme Harus Menjadi Panduan Bersama
Baik wartawan maupun kreator konten, secara fundamental memiliki tujuan yang serupa yaitu menyebarkan informasi kepada masyarakat. Perbedaannya hanya pada jalur dan tradisinya.

Dalam rangka HPN 2026, yang perlu ditekankan adalah:
Teknologi mungkin berubah, format mungkin bergerak, namun nurani jurnalisme harus tetap hidup.

Wartawan di Indonesia harus terus berani mengungkapkan kebenaran di atas segala kepentingan. Begitu juga dengan kreator konten. Konten yang viral sah-sah saja, tetapi kebenaran adalah yang utama. Popularitas penting, tetapi integritas harus diprioritaskan.

Sebab negara ini tidak kekurangan orang yang mampu berbicara. Yang kurang hanya orang yang berani mengungkapkan kebenaran.

*Masa Depan Pers Tidak Ditentukan oleh AI, Melainkan oleh Keberanian*

AI akan terus berkembang. Jumlah kreator konten akan semakin meningkat. Platform akan terus berubah. Namun, masa depan pers di Indonesia tidak ditentukan oleh teknologi.

Masa depan pers ditentukan oleh satu aspek: keberanian untuk membela kebenaran.

Jika wartawan dan kreator konten dapat berkolaborasi dengan memegang etika, melakukan verifikasi, dan berpihak pada kepentingan publik, maka Indonesia tidak akan terjebak dalam lautan informasi yang menyesatkan.

Justru, Indonesia akan memiliki generasi baru yang menjaga kebenaran, wartawan yang adaptable, dan kreator konten yang bertanggung jawab.

Selamat Hari Pers Nasional 2026. Hidup Pers Indonesia.

Continue Reading

Kopini Tamu

Memaknai Retret Wartawan PWI dalam Konteks Bela Negara Kontemporer

Berman Nainggolan Lumbanradja

Published

on

Oleh: Dr.Bagus Sudarmanto,S.Sos.,M.Si.

Jakarta, Koin24.co.id – Perubahan karakter ancaman terhadap negara menuntut penyesuaian cara memaknai bela negara. Jika pada masa lalu pertahanan nasional identik dengan kekuatan militer dan penjagaan wilayah, maka dalam konteks kontemporer ancaman terhadap negara justru banyak bergerak melalui ruang nonfisik, khususnya ruang informasi. Dalam situasi inilah, retret yang diikuti sekitar 200 wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang diselenggarakan 29 Januari hingg 1 Februari 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Rumpin, Kabupaten Bogor, memperoleh relevansi strategis sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

Dalam kajian keamanan, ancaman terhadap negara umumnya dibedakan menjadi ancaman tradisional dan ancaman nontradisional (Buzan, Wæver, & de Wilde, 1998). Ancaman tradisional bersifat militer dan kasatmata, seperti agresi bersenjata, pelanggaran wilayah, atau konflik antarnegara. Sebaliknya, ancaman nontradisional bekerja secara lebih halus melalui mekanisme sosial, politik, dan kultural. Disinformasi, hoaks, perang narasi, polarisasi sosial, serta delegitimasi institusi negara merupakan bentuk ancaman yang menyasar kepercayaan publik dan kohesi sosial (Rid & Hecker, 2009; Hoskins & O’Loughlin, 2015). Ancaman jenis ini tidak menghancurkan negara secara frontal, tetapi melemahkannya secara gradual dari dalam.

Dalam konteks ancaman nontradisional tersebut, media dan wartawan menempati posisi strategis. Media tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai arena produksi makna tentang rasa aman, risiko, dan ancaman. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pemberitaan yang sensasional, minim konteks, atau terjebak dalam logika klik berpotensi memperbesar keresahan sosial dan moral panic, sekaligus melemahkan legitimasi institusi publik (Jewkes, 2015; Altheide, 2006). Karena itu, praktik jurnalistik yang abai terhadap konteks sosial tidak lagi dapat dipahami semata sebagai persoalan etika profesi, melainkan sebagai potensi kerentanan keamanan nasional.

Kesadaran inilah yang secara eksplisit ditegaskan dalam retreat PWI 2026 melalui kehadiran Menteri Pertahanan Republik Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin, sebagai pembicara kehormatan.

Kehadiran Menhan di forum tersebut bukan sekadar simbol seremonial, melainkan penegasan bahwa negara memandang insan pers sebagai bagian dari ekosistem bela negara. Dalam arahannya, Menhan menekankan bahwa nasionalisme dan patriotisme merupakan fondasi utama bela negara yang melekat pada setiap warga negara, termasuk wartawan, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 30 Undang-Undang Dasar 1945.

Penekanan Menhan terhadap kompleksitas ancaman—baik militer maupun nonmiliter, fisik maupun nonfisik—sejalan dengan realitas keamanan kontemporer. Arus informasi global yang semakin deras, disrupsi teknologi digital, serta ketidakpastian geopolitik menjadikan ruang media sebagai medan strategis baru. Dalam konteks ini, penyebutan wartawan sebagai ‘penjuru dalam perang opini’ memiliki makna analitis yang kuat. Maknanya jurnalisme tidak lagi berdiri di luar medan konflik, melainkan berada di dalam kontestasi narasi yang menentukan persepsi publik tentang negara, ancaman, dan legitimasi kekuasaan.

Tuntutan agar wartawan selalu update terhadap perkembangan informasi dan mampu menyiapkan langkah antisipatif berbasis kepentingan nasional menegaskan bahwa bela negara tidak dapat direduksi sebagai tugas aparat pertahanan semata. Ketertinggalan informasi, kegagalan membaca konteks strategis, atau kelalaian dalam verifikasi bukan hanya berdampak pada kualitas pemberitaan, tetapi juga berpotensi membuka ruang manipulasi opini publik. Dalam literatur keamanan, kondisi semacam ini dikenal sebagai kerentanan kognitif (cognitive vulnerability), yakni situasi ketika masyarakat mudah dipengaruhi oleh narasi yang menyesatkan karena lemahnya filter informasi (Freedman, 2014).

Untuk memahami lebih jauh bagaimana pemberitaan membentuk persepsi ancaman, perspektif news making criminology menjadi relevan. Pendekatan ini menekankan bahwa media tidak sekadar melaporkan kejahatan atau krisis, tetapi ikut memproduksi realitas sosial tentang apa yang dianggap berbahaya dan mengancam (Barak, 1994). Pemberitaan yang menonjolkan kekerasan tanpa konteks struktural terbukti meningkatkan fear of crime dan kecemasan publik, meskipun tingkat ancaman objektif tidak selalu meningkat (Jewkes, 2015).

Ketakutan publik yang berlebihan memiliki implikasi serius dalam kerangka pertahanan negara. Masyarakat yang dikuasai rasa takut cenderung mudah tersulut emosi, menuntut respons represif, dan kehilangan kemampuan berpikir rasional. Dalam kondisi demikian, kohesi sosial melemah dan ruang publik menjadi rapuh serta mudah dimanipulasi oleh aktor-aktor berkepentingan. Karena itu, kesadaran kriminologis dan etis dalam praktik jurnalistik menjadi krusial agar media tidak secara tidak sadar justru memperkuat ancaman nontradisional yang sedang dihadapi bangsa.

Retret wartawan PWI dapat dipahami sebagai respons reflektif terhadap situasi tersebut.

Retret–yang dimaknai sebagai upaya menjauh sejenak dari rutinitas untuk refleksi dan evaluasi–menyediakan ruang bagi wartawan untuk meninjau ulang peran sosialnya di luar tekanan siklus berita harian. Dalam ruang ini, wartawan diingatkan bahwa setiap keputusan editorial memiliki implikasi yang melampaui kepentingan redaksi, termasuk implikasi terhadap stabilitas sosial dan ketahanan nasional.

Penekanan Menhan pada pentingnya disiplin dan penguatan nasionalisme di tengah tantangan digital mempertegas bahwa transformasi teknologi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan nilai dan orientasi kebangsaan. Digitalisasi memang mempercepat produksi dan sirkulasi informasi, tetapi sekaligus memperbesar risiko disinformasi dan fragmentasi publik. Karena itu, barisan insan pers yang kuat secara etis dan reflektif menjadi prasyarat untuk menjaga ketahanan ruang informasi nasional.

Dengan demikian, retret wartawan PWI 2026 di Bogor tidak lagi dapat dipahami sebagai kegiatan seremonial atau forum etika profesi semata. Ia merupakan ruang konsolidasi kesadaran bela negara nontradisional–sebuah upaya sunyi namun krusial–untuk memastikan bahwa ruang informasi Indonesia tidak menjadi medan ketakutan kolektif, melainkan fondasi bagi rasionalitas, ketenangan sosial, dan persatuan bangsa. Dalam konteks inilah, jurnalisme yang berdisiplin, berkesadaran keamanan, dan berpijak pada kepentingan nasional dapat dipahami sebagai salah satu bentuk bela negara paling strategis di era perang opini.

Penulis adalah Dosen Kriminologi FISIP UI, Anggota Dewan Redaksi keadilan.id, Wartawan Senior dan Pengurus Harian PWI Jaya

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terpopuler