Connect with us

Ekonomi

Utilisasi naik 65 persen, kinerja industri keramik semakin kemilau

Avatar

Published

on

Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Adie Rochmanto Pandiangan. (Kemenperin)

Jakarta, koin24.co.id – Kementerian Perindustrian terus memacu produktivitas dan daya saing industri keramik di tanah air. Sebab, sektor ini mempunyai potensi dan peluang yang besar untuk dikembangkan di dalam negeri seiring dengan ketersediaan sumber daya alam yang dijadikan bahan baku, tersebar di sejumlah daerah.

“Secara kapasitas dan kemampuan, industri keramik kita telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun demikian, kami juga mendorong pemanfaatan teknologi guna menciptakan produk yang inovatif dan kompetitif,” kata Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Adie Rochmanto Pandiangan di Jakarta, Minggu (6/12).

Adie menyebutkan, sejumlah kebijakan strategis yang telah dijalankan pemerintah dalam rangka mendongkrak daya saing industri keramik nasional terhadap ancaman produk impor, antara lain adalah penerapan safeguard atau pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengaman (BMTP) terhadap impor produk ubin keramik. Selain itu, pemberlakuan harga gas bumi untuk sektor industri sebesar USD6 per MMBTU.

“Upaya pemerintah yang telah dilakukan tersebut, sangat mendongkrak pemulihan kinerja industri keramik nasional dan dirasakan juga manfaatnya dengan adanya peningkatan permintaan pasar dalam negeri maupun ekspor,” paparnya.

Saat ini, utilisasi produksi nasional dari sektor industri keramik mulai melonjak hingga 65% pada November 2020. “Diharapkan akan terus meningkat sampai dengan akhir tahun 2020 sebesar 70% dari sebelumnya hanya utilisasi hanya berkisar 45%-50% karena pandemi Covid-19,” jelas Adie.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam optimistis pada kebijakan yang telah diterbitkan pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan industri di tengah masa pandemi saat ini. “Kami mengapresiasi kepada sektor industri manufaktur dalam negeri, termasuk industri keramik yang telah menunjukkan keuletan dan mampu memanfaatkan peluang rebound dengan dukungan pemerintah,” tuturnya.

Khayam menegaskan, pihaknya akan terus berupaya melaksanakan langkah-langkah kebijakan strategis yang merupakan program kementerian, di antaranya melalui program substitusi impor 35% pada tahun 2022 untuk mendukung pemulihan industri nasional, serta mewujudkan sektor industri yang maju dan berdaya saing.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mengemukakan, pemulihan industri keramik di tanah air terlihat dari hasil kinerja ekspornya. Sepanjang Januari-September 2020, pengapalan produk keramik nasional mencapai USD49,8 juta atau meningkat 24%, dan secara volume menembus angka 12,8 juta m2 atau melonjak 29%.

“Kinerja ekspor selama sembilan bulan di tahun ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2016,” kata Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto. Peningkatan nilai ekspor tersebut, menurutnya, karena membaik dan meningkatnya daya saing industri keramik dengan harga gas baru dan mulai dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor.

Adapun lima negara tujuan ekspor utama untuk produk keramik nasional, yaitu ke Filipina, Malaysia, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat. “Lonjakan ekspor terjadi dengan tujuan negara Amerika Serikat mencapai 130%, Filpina sekitar 60% dan Taiwan 40%,” sebut Edy. Peningkatan ekspor di luar lima negara tujuan utama tersebut, juga terjadi di Australia dengan mencapai 50%.

“Permintaan ekspor ke Amerika Serikat meningkat tajam untuk produk-produk keramik segmen premium, di mana beberapa anggota Asaki telah mengadopsi teknologi terkini dan tercanggih saat ini untuk memproduksi keramik big slab (ukuran jumbo) beserta produk-produk olahan lainnya yang memberikan nilai tambah,” papar Edy.

Capaian ini juga membuktikan bahwa secara skill SDM industri maupun kualitas bahan baku lokal mampu bersaing dengan produk keramik sejenis dari negara Eropa. (Sumber: Kemenperin)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Ekonomi

Raker PT. PPILN yang Ke-10 Tahun 2022 Menuju Era Mas

Published

on

Jakarta, koin24.co.id – PT. Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional menggelar rapat kerja nasional ke-10 sekaligus memberikan Award kepada wilayah-wilayah terbaik. Terbaik ketiga di berikan kepada wilayah Bali, terbaik kedua di berikan wilayah Sumsel, terbaik ke satu di raih wilayah Jatim, yang berlangsung di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/1/22).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Dirjen Ketenagalistrikan Kemen ESDM, Muhadi, ST.Mt, selaku Koordinator Usaha Penunjang Ketenagalistrikan. L Didit Waskito, ST., MT, selaku Koordinator Kelaikan Tehnik dan Keselamatan Ketenagalistrikan, Komisaris PT. PPILN. Direktur Utama PT. PPILN, Edy Sayudi, ST, Direktur Bidang PT. PPILN. General Manager PT. PPILN Wilayah se-Indonesia dan peserta Zoom Pengawas Wilayah dan seluruh Manager Area PT. PPILN seluruh Indonesia.

Direktur Utama PT. PPILN, H. Edy Sayudi, ST dalam sambutannya mengatakan, perjalanan perusahaan yang menginjak 10 tahun merupakan kebanggan bagi kita semua. Bagaimanapun perusahaan membangun soliditas dan kekuatan manajemen sehingga pembangunan kekeluargaan tetap senantiasa terjaga.

“Alhamdulillah, PT. PPILN yang sudah 10 tahun berjalan tanpa mengenal lelah sekalipun kesulitan yang kita hadapi tanpa ada hentinya atas kerja keras seluruh karyawan karyawati di seluruh indonesia PPILN mampu mempertahankan kenerja yang sangat baik terbukti berturut turut menerima penghargaan terbaik dari EDSM

Dijelaskan Edy, tentunya pembinaan dan penilaian yang di lakukan oleh pemerintah tidak mudah dilakukan oleh DJK terhadap perusahaan yang dibawahnya karena dinamika yang ada memiliki karakteristik yang berbeda beda sehingga mungkin dari seluruh stakeholder yang dibawah pemerintah terutama para LIT TR memiliki cara yang berbeda penilaian yang di lakukan oleh DJK sangat berat sekalipun standarisasi penilaian sudah di tetapkan

“Kami ucapkan terima kasih banyak karena PT. PPILN masih mendapatkan nilai terbaik dari pemerintah,” terangnya.

Ia menambahkan, penilaian tidak mudah didapat karena persaingan begitu ketat dan ada kriteria yang harus dipenuhi. (Red).

Continue Reading

Ekonomi

Sikapi Pandemi dengan Buka Usaha

Published

on

Tangerang, Banten, koin24.co.id Pandemi Covid-19 masih belum diketahui kapan berakhirnya. Semua terpengaruh, tak terkecuali dunia usaha. Termasuk kalangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Itulah kondisi memprihatinkan yang harus dihadapi dan diterima dihampir dua tahun terakhir.

Tentunya tidak sedikit pula yang mampu bertahan, sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu pula pemerintah terus memberikan dukungan. Agar UMKM bisa survive, pemerintah memberi banyak stimulus, melalui beragam paket bantuan bagi UMKM tersebut. Terakhir paket bantuan untuk para pedagang kaki lima dan warteg.

“Teman-teman pengusaha kecil memang layak dibantu. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah tentunya bisa membuat mereka bertahan. Apalagi mereka yang sangat membutuhkan bantuan permodalan,” ungkap Delasara Irwinda.

Dela, sapaan perempuan berusia 28 tahun itu, ditemui Minggu sore, 15 Agustus 2021, di kawasan Kreo, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Banten. Dela bersama suaminya, Reza Rizki Arjai, baru saja memulai usaha pengiriman barang sekaligus penjualan pakaian perempuan.

Dela dan Reza memilih jenis usaha tersebut mengingat di sekitar belum banyak. Untuk usaha pengiriman barang, namanya “Lion Parcel Kreo”.

“Kalau untuk pakaian Fashionbutik,” ujar Dela, yang bersama suaminya, Reza, alumni Fakultas Komunikasi Universitas Moestopo. Mereka memadukan dua jenis usaha tersebut di ruangan sekitar 3×4 meter dari bagian bawah rumah mereka di Jalan Holil RT 003/007 nomor 43, Kreo, Kecamatan Larangan, Ciledug, Kota Tangerang.

Dela dan Reza baru memulai usahanya pekan lalu, bertepatan dengan peringatan 1 Muharram 1443 Hijriyah. Momentum hijrah itu menjadi pendorong sekaligus penyemangat keduanya untuk berbuat dan melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Mereka meyakini Pandemi Covid-19 yang masih mendera mestinya tidak menjadi kendala dan penghalang untuk membuka usaha.

“Alhamdulillah, sejak dimulai minggu lalu, sudah banyak yang datang. Baik untuk mengirim barang atau membeli baju,” kata Dela.

Mereka memang tidak melakukan promosi, misalnya membuat selebaran atau mini poster. Menurut Dela, upaya memperkenalkan usaha pengantaran barang dan fashionbutik-nya sebatas dari mulut ke mulut. Promosi dari teman ke teman, tetangga ke tetangga dan akhirnya meluas itu ternyata sangat efektif.

Kenyamanan dan kualitas, disebut Dela sebagai jaminan untuk konsumen dan pembeli. Dela dan Reza meyakini konsumen bahwa servis “Lion Parcel Kreo” tidak mengecewakan. Untuk pakaian, yang dikhususkan untuk perempuan, mereka mengutamakan kualitas.

Dalam menjalankan usahanya tersebut Dela dan Reza memperoleh dukungan penuh dari keluarga besarnya. Apalagi keluarga besar Reza memang asli sana, turun temurun tinggal di situ. Lingkungan di sana juga relatif kondusif.

Dela dan Reza mengakui harus adanya keseriusan, kesabaran, ketekunan dan kerja keras dalam menjalankan jenis usaha apa pun. Tidak juga sekadar mengandalkan keberuntungan dan momentum. Mereka menyadarinya. Oleh karena itu pula mereka mempercayakan jalannya usaha ini pada keluarga.

“Saya dibantu ibu mertua dan keluarga dekat juga. Mereka yang setiap saat ada di sini, sementara saya dan Reza harus bekerja,” tutur Dela.

“Mama punya jaringan, ya, ibu-ibu pengajian, teman-teman sekolah dulu. Mama bisa meyakinkan mereka bahwa baju-baju yang ada di sini baik kualitasnya,” kata Dela, tentang ibu mertuanya. (***)

Continue Reading

Ekonomi

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional ASMINDO Berharap Pemerintah Lebih Serius Atasi Permasalahan Industri Mebel

Published

on

Jakarta, koin24.co.id – Berbagai upaya dilakuan pemerintah melalui Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk membangkitkan perekonomian bangsa yang sempat terpuruk akibat badai pandemi.Upaya ini pun mendapat apresiasi dari banyak pihak karena terbukti mampu menggerakkan perekonomian kembali. Pun demikian, masih banyak kendala yang harus dihadapi agar perekonomian bisa cepat kembali pulih. Salah satunya dengan meningkatkan kontribusi dari sektor UMKM di tanah air.

Mengutip hasi riset McKinsey & Company pada Oktober 2020 yang lalu, Ketua Bidang Organisasi DPP Asmindo (Assosiasi Mebel Indonesia), Endro Wardoyo menyebut proyeksinya ihwal potensi sumbangan sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) 10 tahun mendatang, pada Tahun 2030. Mc Kinsey menyebut sektor UMKM bisa menyumbang PDB hingga US$140 miliar apabila mampu mengembangkan inovasi dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi dan mendapat pendampingan yang cukup dalam menjalani bisnisnya.

Dalam materi presentasi yang disampaikan dalam Webinar bertajuk “Kebangkitan UKM/IKM Industri Mebel Dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional,” yang digelar Sabtu (19/6) pagi Endro menyebut, jumlah perusahaan di Industri mebel/furniture di tanah air tahun 2020 mencapai 1.114 perusahaan dengan total kapasitas 2,91 juta ton. Industri ini menyerap tenaga kerja hingga 143.119 orang. Sementara itu, nilai ekspor yang dihasilkan mencapai 1,87 Miliar US$ sehingga berkontribusi terhadap PDB 0,26%.

“EKSPOR FURNITURE dari Januari – April 2021 bahkan sudah mencapai USD 0,85M, atau naik 39,47% dibanding periode yang sama 2020 (USD 0,61M),” ujarnya.

Namun demikian, permasalahan guna mendukung kebangkitan UKM Furniture/Mebel dalam mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional tak bisa dihindari. Ia merinci, ada 6 permasalah yang saat ini tengah dihadapi. Yang pertama terkait melambungnya biaya container untuk mendukung pengiriman produk mebel tanah air ke berbagai belahan dunia.

“Mungkin yang pertama tadi yang diutarakan teman-teman ada keluhan bahwa sekarang ini sedang mahal transportasi, khususnya container untuk ekspor. Nah yang diharapkan permasalahan ini segera diatasi. Artinya pemerintah hadir untuk mengatasi hal ini. Yang sebenarnya ini kalau tidak cepat diselesaikan ini berdampak sangat luar biasa. Salah satu dampaknya,barang kita ini menjadi lebih mahal dibandingkan barang-barang dari negara lain. Walaupun kondisi ini Negara lain juga mengalami, tapi bedanya mereka sudah punya solusi,” ujar Endro lagi.

Untuk itu Endro berharap pemerintah segera muncul dengan solusi terkait kelangkaan container ini. Ia menyarankan adanya subsidi dari pemerintah untuk mengatasinya.

“Dalam hal ini mungkin pemerintah bisa mendatangkan mother vessel/ kapal sendiri, mendatangkan container-container yang kosong dari luar negeri. Karena ini kan terjadi ketidakseimbangan antara ekspor dan impor. Lebih banyak ekspornya tapi impornya berkurang jadi otomatis containernya banyak tertahan di luar. Selain itu juga kapalnya yang tidak ada maka harus mendatangkan kapalnya, mother vessel. Atau menyewa ke salah satu pelayaran. Yah minimal 1 bulan 1 kali. Ini mungkin akan membantu. Kalau tidak ya mungkin ekspor kita akan terganggu. Dan tentu saja kalau ekspor terganggu berarti devisa juga terganggu. Artinya apa yang menjadi target pemerintah soal devisa soal ekspor berarti tidak akan tercapai,” terang Endro.

Selain kendala masalah transportasi, khususnya kelangkaan container, hal lain yang masih mengganjal tumbuh kembangnya UKM Mebel di tanah air adalah sulitnya produk UKM mebel untuk terlibat dalam pengadaan barang di pemerintahan. Padahal menurutnya, jika UKM mebel bisa difasilitasi untuk dapat memenuhi pemenuhan barang di pemerintahan, sector industry mebel tanah air bisa berkembang pesat.

“Di APBN kita ini kalau tidak salah menurut data Kemenkop itu ada sekitar Rp300 triliun (anggaran pengadaan barang dan jasa). Ini bagaimana teman-teman UKM bisa mengakses di sana. Tadi bu ema (Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng) menyampaikan bahwa pengadaan barang senilai 200 juta ke bawah ini kan penunjukkan langsung. Kemudian yang 200 ke atas ini melalui lelang, tender dan lain sebagainya. Nah yang begini-begini yang harus diperbanyak dan difasilitasi kepada pelaku UMKM yang membutuhkan,” ujarnya.

Dalam webinar yang sama, Deputi UKM Kemenkop, Hanung Harimba Rachman menjelaskan, Kementerian Ekonomi dan Koperasi sudah mempunyai program dalam upaya memaksimalkan potensi pasar domestic ini. Yang pertama dengan standarisasi dan sertifikasi produk. Upaya ini dilakukan dengan memfasilitasi produk untuk peningkatan nilai jual, seperti : ISO, HACCP, dan ORGANIK. Kemudian ada juga Pemasaran Produk (LURING). Upaya ini dilakukan dengan member pelayanan pemasaran melalui Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM dan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di daerah.

“Berikutnya adalah Korporatisasi Koperasi, UKM Go Digital, dan yang terakhir adalah pelibatan KUKM dalam Pengadaan Barang dan Jasa. Upaya terakhir ini dilakukan dengan pengadaan Laman UMKM LKPP, Bela Pengadaan dan Pasar Digital UMKM,” terang Hanung.

Kemudian di tahun 2021 – 2022 Kemenkop juga tengah mempersiapkan program lain. Program itu diantaranya adalah program kolaborasi seniman, desainer, dan UMKM Industri kreatif, serta program Pusat Layanan Terpadu agar tercipta sinergitas antara Kementerian/ Lembaga dengan mitra Kemenkop UKM. Sinergitas ini diharapkan dapat memberikan Data tunggal dan terpenuhinya layanan terpadu bagi UMKM di tanah air. (***)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terpopuler