Connect with us

Kopini Tamu

Mendorong Kreatifitas Pelajar Melalui Robot

Published

on

Mengawali rangkaian kegiatan tahun 2020, Taman Pintar bekerjasama dengan Macquarie University Australia kembali menyelenggarakan kegiatan workshop robotik tahun ke-4. Kegiatan ini ditujukan untuk pelajar kelas 4-6 SD dan kelas 1-2 SMP se-DIY dan sekitarnya ini  berlangsung sejak 15 Januari hingga 5 Februari 2020 di Phytagoras Hall Taman Pintar Yogyakarta.

Retno Yuliani  selaku Kasie Pelayanan dan Pengembangan Taman Pintar Yogyakarta dalam  edaran rilis kepada awak media mengungkapkan bahwa setiap harinya  kegiatan tersebut diikuti oleh 30 peserta yang dibagi menjadi 10 grup dengan masing-masing grup terdiri dari 3 siswa.  Untuk  Peserta Tingkat SD diberikan pelatihan mengenai pembuatan dan pemrograman robot menggunakan Raspberry Pi-Edison Robot dan pemrograman robot menggunakan Si Robo , sedangkan Khusus untuk peserta SMP, setiap grup harus menyiapkan 1 HP Android untuk pemrograman.

”  Setiap grup mendapatkan pelatihan selama 3 jam. Sedangkan  puncak dari workshop ini nantinya akan dilakukan Mini Kontes Robotik yang dilaksanakan pada 5 Februari 2020 ”  ungkap  Retno.

Dijelaskan Retno, Mini Kontes ini sebagai sarana “unjuk gigi” peserta dalam menyerap materi pelatihan yang telah didapatkan sebelumnya. Untuk peserta dari sekolah yang dikunjungi Taman Pintar, pelaksanaan mini kontes dilaksanakan secara langsung setelah pelatihan selesai pada saat hari kunjungan. Perkembangan zaman dan teknologi menjadi dasar dilaksanakannya kegiatan ini. Generasi yang melek teknologi dibutuhkan untuk dapat mewujudkan kemajuan bangsa Indonesia.

Kerjasama ini rutin diselenggarakan untuk mewujudkan misi Taman Pintar dalam menumbuhkembangkan minat anak dan generasi muda terhadap sains melalui imajinasi, percobaan, dan permainan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Memperkenalkan ilmu robotik kepada anak-anak, merupakan salah satu upaya untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. (*)

Opini Redaksi Koin

SELAMAT JALAN MAS TJAHJO

Published

on

selamat jalan mas tjahyo

Dapat kabar satu menteri, Tjahjo Kumolo mendahului kita. Terus terang kenal bingits mah kagak. Cuman ada satu kenangan bersama doi nyang kagak terlupakan.

Satu hari di bulan Desember 2017,kl kagak salah,gw sama bokin makan di Gado-gado Bonbin kawasan Cikini.Emang lagi jam makan. Penuh bingits. Ada satu tempat yg lengang. Cuman satu orang nyang duduk. Tjahjo Kumolo. Daripada kagak makan ya gw samperin ajah. Sok tau dan sok kenal. Numpang duduk. Ternyata doi ramah. Narik kursi. Mari, silakan katanya buat bokin gw.

Abis itu kita ngobrol antara laintentang kegiatan kami dan tentang almarhum Ketua PWI Pusat, Tarman Azzam.
Mas Tjahjo juga cerita udah berapa puluh tahun jadi langganan di tempat itu. Sama dong, kata gw.
Lantas, sebagaimana biasa, mungkin untuk nyang laen bisa berasa kurang ajar,gw minta foto.

Kl aku minta izin berfoto sama menteri kan ga sopan, jadi aku perintahkan Pak Menteri berfoto sama kita, kata gw.
Seperti nyang gw duga Mas Tjahjo malah ngakak. Ayo, katanya dengan nada hangat. Jadi deh jeprat-jepret.
Lantas gw tanya mau ke mana mas? Ada acara di Gedung Juang.Mau gabung? Gw bilang terima kasih mas, ntar ganggu.

Ra opo opo katanya. Tetep ajah gw tampik. Pipi kenapa mas? Tanya gw ngeliat ada plester nempel. Ooh,bisul iki, jawabnya.

Saat kita ngobrol, orang -orang pada ngeliatin.Jangan-jangan pada bertanya, siapa sih tuh orang nyang sok kenal tapi ditanggapi dengan akrab. Atau malah ada nyang ngira gw pejabat. Hhhh, kagak pentinglah.

Ga lama kemudian Mas Tjahjo minta diri. Aku dulu ya. Bener ga mau gabung.

Ga deh mas. Selamat dan sukses yo.

Iyo suwon, katanya. Doi pergi sementara tempat duduk kami masih lengang.
Ada nyang gw lupa………..minta dibayarin Rasanya sih doi ga keberatan. Bukan kagak punya kepeng tapi kan gagah masyarakat biasa dibayarin menteri.

Itu sekelumit kenangan bersama Mas Tjahjo. Selamat jalan Mas. Semoga mendapat nyang terbaik.

Continue Reading

Opini Redaksi Koin

Hubungan Antar Mahluk

Published

on

Manusia dengan binatang, bisakah berkomunikasi. Jawabannya tentu saja bisa.

Manusia berhubungan dengan sesamanya lewat kata-kata atau bahasa isyarat sedangkan manusia dengan mahluk lain berhubungannya lewat rasa yang dilakukan dengan bentakan,belaian atau tatapan.

Tentu saja hubungan itu harus manusia yg mengelolanya.

Binatang cuma punya naluri .Cuma manusia mahluk yg punya akal budi yg buat aku merupakan salah satu anugrah yang menjadikan manusia sebagai mahluk paling mulia.Tentu harus bisa membuktikan kepantasannya atau jangan- jangan cuma meyebutkan predikat itu untuk sekadar penegasan ?

Kami tidak pernah memelihara kucing.Terus terang mungkin terpengaruh ungkapan, kucing tuh biar sudah dikasih makan tetap saja nyolong.

Itu yang terjadi pada Cu.Kepanjangan dari Culik atau Culas. Kl dibiarin suka nyolong. Tentu saja aku marah malah sampai kutendang. Setelah itu aku menyesal tapi kl Cu melakukan lagi tetap akan kuhajar.

Sejak itu Cu belum lagi berani nyolong. Tetap kami beri makan.

Cu melahirkan. Kejadian pertama di rumah kami. Dari tiga ekor cuma satu yang bertahan. Kami beri nama Ta. Lengkapnya Taft atau tabah.

Semula Ta tumbuh sebagai anak penakut dan penuh kecurigaan tapi perlahan mulai berani bahkan sudah manja. Hobinya gigit jempol kakiku yang nyembul dari sandal. Ta belum bisa mengukur kekuatannya jadi jempol kaki, jari lain atau malah tumitku sering baret. Aku harus maklum paling hanya mengibaskan kaki dan membunyikan bentakan kecil. Hush,hush. Ta lari tapi kemudian kembali dan menggigit atau mencakar lagi. Kadang keras kadang lembut. Kok lama-lama malah jadi hiburan buat aku.

Ta cantik. Kl kucing lain terkesan sipit, mata si Ta justru bulat dan teduh seperti permata.
Dari takut-takut Ta mulai sering menggoda. Lompat ke pangkuanku, menatap mataku bahkan berani menggigit daguku. Herannya Ta lakukan selalu lembut padahal sebenarnya aku agak khawatir juga.

Istriku yg biasanya tak pernah membelai kucing, kepada Ta dia berbeda. Cuma Ta yang boleh masuk rumah.
Kucing lain yang sering datang dan kemudian ” menjajah” halaman mungil kami namanya Bi. Tulisannya Be. Dari Cimeng wannabe.

Pasangan pendahulu mereka yg jantan namanya Cimeng yg betina Nyingnying.Setelah itu ada betina cantik namanya Triko. Dari Tricolor alias tiga warna. Setelah beberapa lama, ketiganya pergi entah ke mana. Datanglah Cu, Bi dan lahir Ta. Bi bawaannya rustig.Tenang,santai. Ekornya dijadikan permainan oleh Ta dia diam saja.

Sekitar sebulan lalu, sedang sayang sayangnya kami, Ta pergi. Bi juga. Sepuluh hari lalu Bi tiba-tiba nyelonong. Kalau biasanya dia tenang, sejak saat itu di ngeong-ngeong seolah mengatakan, ini aku kembali. Sediakan makanan. Kira kasih dia makan. Lahap,cenderung rakus..

Setelah itu Bi menghilang lagi. Tiga hari belakangan dia muncul lagi lantas datang-pergi sampai sekarang. Tetap cerewet kalau minta makan. Setelah itu kembali cuek dan santai tapi manja. Lho kok jadi seperti Ta.

Ta sendiri sampai sekarang belum kembali. Kami merasa ada yang hilang tapi sudahlah. Semoga Ta mendapatkan yang terbaik.

Ta, if you find better place and owner I try to understand but if you preferbto come it will be much more than verry welcome.

Continue Reading

Opini Redaksi Tamu

Pemahaman dan Pemanfaatan Literasi Digital Bagi Orang Tua pada Era Pandemi

Published

on

Oleh : Anik Hanifatul Azizah, S.Kom, M.IM

Istilah literasi digital tidak asing lagi bagi masyarakat, namun bagaimana memahami dan memanfaatkan digital dengan bijak adalah hal yang perlu dilatih dan terus dipelajari. Mengapa perlu memahami literasi digital? Karena sebenarnya digitalisasi ini sudah menjadi bagian hidup masyarakat sehari-hari.

Menurut definisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), literasi digital adalah kemampuan dan kecakapan menggunakan teknologi digital, memahami isi dan informasi, serta menjalankan perannya secara efektif dalam lingkungan digital.

Terdapat tiga kata kunci dalam definisi di atas, pertama kata ‘menggunakan’, dapat dipahami bagaimana kita sendiri atau anak mampu menggunakan teknologi sesuai fungsinya. Kemudian kata ‘memahami’ berarti adalah bagaimana kita paham value dari sebuah media tersebut, dan ketiga adalah ‘menjalankan’ yaitu bagaimana kita atau anak dapat memposisikan diri dengan dunia digital yang dihadapi.

Pemahaman literasi digital ini disampaikan pada kegiatan pengabdian masyarakat Universitas Esa Unggul bertajuk Edukasi Smart Parenting pada peringatan hari ibu 22 Desember 2021 dengan menggandeng komunitas bidan EBSCO yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Literasi digital sangat penting untuk diterapkan masyarakat, terutama generasi orang tua millennial ataupun baby boomers sebagai pelaku digital immigrant. Terdapat dua generasi yaitu generasi digital native dan generasi digital immigrant.

Generasi digital native merupakan para generasi muda yaitu mereka yang sejak lahir sudah langsung berhadapan dengan kemajuan digital. Sedangkan, generasi digital immigrantmerupakan mereka yang sejak lahir tanpa adanya kemajuan digital atau teknologi, maka mereka perlu mempelajari lagi teknologi yang ada nantinya. Anak-anak dari generasi millennial dan baby boomers ini termasuk generasi digital native, sedangkan orang tuanya sendiri mengenal digital di saat remaja atau bahkan sudah beranjak dewasa. Inilah yang menjadi tantangan terbesar. Seorang digital immigrant ditantang untuk mendidik digital native.

Elemen penting digital literasi Bukan hanya sekadar definisi, tapi esensi. Sebagai orang tua dituntut untuk paham dan membiasakan hal ini pada literasi digital sehari-hari. Beberapa tips menerapkan pola asuh digital yang baik yaitu, menjaga komunikasi dengan anak, membekali diri dan terus belajar, membuat aturan bersama anak, menjadi teladan digital yang baik bagi anak serta memanfaatkan aplikasi parental control dalam penggunaan gadget anak.

Aplikasi parental control dapat membantu orang tua mendampingi anak di dunia digital, tapi tidak dapat menggantikan peran orang tua. Kegiatan anak selama pandemi sebagian besar dilakukan secara daring, tugas orang tua adalah mendampingi anak. Orang tua hendaknya paham esensi dari kegiatan belajar daring tersebut. Orang tua juga sebaiknya paham aplikasi atau platform apa yang digunakan anak selama kegiatan belajar berlangsung. Sebagai orang tua dari generasi digital native harus siap dan rela banyak belajar untuk pemahaman digital yang baik. Menjadi teladan digital yang baik dapat menjadi upaya yang tepat untuk menumbuhkan digital wellbeing atau kesejahteraan digital pada masyarakat. (***)

*Penulis adalah Dosen Prodi Sistem Informasi, Universitas Esa Unggul

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terpopuler